(Foto : Cover buku Hanoman/Google)

Judul : HANOMAN ; Dalam Wiracarita Ramayana
Penulis : Zulham Farobi
Penerbit : Anak Hebat Indonesia
No. ISBN : 9786025469589
Jumlah Hal : 416

Percayakah engkau pada sebuah legenda?

Percayakah engkau  pada dongeng – dongeng?

Berbaringlah, resapi kata – kata yang akan engkau terima.

Jauh dari tempat, ada sebuah kisah yang harus diceritakan.  Kisah anak dari keturunan wanara yang berjalan menyusuri benua untuk mencari sang ibu. Dalam perjalannya ia bertemu dengan anak – anak manusia. Mereka tersesat di asmara kekacauan.

Hanoman namanya, ia berwujud seekor kera. Saat kecil ia bermain di hutan dengan para singa atau gajah – gajah. Tinggal bersama ibunya Putri Anjani, hidupnya terasa lengkap. Alhasil ia tidak membutuhkan siapapun lagi di dunia ini.

Suatu ketika ia mengalami musibah. Di tinggal pergi oleh ibunya. Kejadian ini memaksanya untuk mengenal dunia, sehingga membuatnya memahami arti hidup yang sebenarnya. Ditinggal pergi ibunya membuatnya terpukul, namun hal itu tak lantas membuatnya menyerah. Segala macam cara ia lakukan untuk menemukan keberadaan ibunya.

Dalam pencarian, ia bertemu dengan pamannya Sugriwa. Adik dari ibunya. Ia menyelamatkan Sugriwa yang tampak terluka parah setelah bertempur panjang dengan kakaknya Subali, yang tak lain juga adik dari ibu Hanoman. Kedua pamannya bertengkar akibat kesalahpahaman masalalu yang tak kunjung selesai, sehingga membuat hubungan persaudaraan mereka tidak dalam baik – baik saja.

Hanoman kini tinggal bersama Sugriwa di hutan untuk menyebunyikan diri dari Subali. Selang beberapa tahun, mereka bertemu dengan dua pangeran Ayodya Rama Wijaya dan Laksaman dari Negeri  Kosala. Kedua pangeran itu sedang munuju Negeri Alengka, untuk menjemput istri Rama yang saat itu di culik raja Rahwana.

Dewi Sita namanya, ia adalah putri Janaka, seorang raja yang memimpin Negeri Mantili. Ketika menikah dengan Rama, ia harus mengikuti suaminya tinggal di hutan. Karena saat itu Rama harus memenuhi amanah dari ayahnya. Yang mengharuskannya tinggal di pengasingan selama 14 tahun, setelah itu ia baru bisa kembali dan memimpin Negeri Kosala.

Berbagai macam cobaan mereka alami. Namun hal itu tak mengurangi rasa cinta kedua anak manusia itu. Hanoman tampak terharu ketika mendengar kisah Rama, ia akhirnya memutuskan untuk membantu Rama dalam mencari istrinya.

Dalam buku ini dapat kita lihat bagaimana jalannya persahabatan antara Rama dan Hanoman, kemudian bagaimana kesetiaan cinta Dewi  Sita terhadap Rama. Serta bagaimana seorang adik, Laksaman berbakti terhadap kakaknya dengan setia mengikuti kemanapun Rama pergi.

Disini juga kita dapat melihat bagaimana mereka menjalani hidup dengan menahan kerinduan yang begitu menggebu – gebu. Hanoman terhadap ibunya dan Rama terhadap Dewi Sita begitu pun sebaliknya.

“Rama, aku tahu betul kerinduanmu pada Dewi Sita. Aku yakin Dewi Sita juga merindukanmu di sana,” kata Hanoman.

“Ada benarnya bila kita tidak terlalu mengikuti hawa nafsu kita. Benar memang adanya bahwa keinginan adalah salah satu sumber penderitaan dalam hidup,” tambahnya.

Mendengar pernyataan itu, membuat Rama menjadi lebih semangat dalam mencapai tujuannya. Hanoman yang menyaksikannya kini menyadari, bahwa yang namanya kesetiaan, kerinduan dan lainnya semua butuh perjuangan.

Terbukti dengan melihat bagaimana Rama mengalahkan Rahwana, si raja raksana yang dikenal dengan kekuatan Aji Pancasona yaitu kekuatan yang membuat tubuh kebal, sehingga pemilik kekuatan tersebut dapat membuatnya hidup kekal. Namun hal itu dapat di atasi.

Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, Rama berhasil menyelamatkan Dewi Sita dan kini hidup bahagia tentunya.

“Kegelisahan dan kegetiran dari semua masalah ini lenyap sudah. Maka disinilah aku, di bagian akhir legenda Ramayana, menginginkan untuk pulang dan melanjutkan hidup bersama para wanara dan Paman Sugriwa," tutup Hanoman.

Segala macam konflik terjadi dalam cerita di buku ini, sehingga membuat yang membacanya tertarik karena konflik di kemas dengan hal sederhana dan begitu nyata terasa. Tetapi, ada kekurangan dari buku ini yang cukup menggangu pikiran saya, yaitu ceritanya terlalu sering di ulang dari adegan peradegan, sehingga membuat pembaca merasa bosan.


Penulis : Fifiyanti Abdurahman