(Foto: Ilustrasi Ojek Online Perempuan/Kompasiana)

Siang itu, aku datang ke Aksi Hari Buruh dengan suasana yang sudah dipenuhi massa. Mereka membawa tuntutan yang terasa dekat, tapi sering tak dianggap sebagai “kerja”: pekerjaan domestik yang tak dibayar, beban ganda perempuan, tubuh yang lelah dengan minim upah, dan waktu habis tanpa pengakuan formal dari negara.

Jalanan padat, suara toa saling bersahutan, dan orang-orang berkumpul dengan kegiatannya masing-masing. Sebagian berdiri dekat mobil komando (mokom), sementara yang lain duduk di pinggir jalan, berbincang atau sesekali mengecek ponselnya.

Dari atas mokom, suara-suara tuntutan terus mengalir. Bukan sekadar kemarahan, tetapi juga kegigihan yang dipelihara lama dan harapan yang berkali-kali dikhianati, tetapi belum juga dilepaskan. Kata-kata tentang upah layak, jaminan kerja, dan hak hidup manusiawi dilontarkan bergantian, menggema di antara gedung-gedung dan panas terik siang itu.

Hingga kemudian, seorang ibu berumur 50 tahun naik ke atas mokom. Ia mengenakan jaket kuning, identik dengan salah satu layanan transportasi berbasis aplikasi yang kini sudah tampak lusuh. Warnanya mulai memudar, dengan lipatan-lipatan yang menyimpan jejak hari panjang di jalanan.

Dibanding berorasi, ia lebih memilih berpuisi untuk meneriakkan sesaknya pekerjaan informal. Pelan tetapi tegas, ia mengulang baris puisinya dengan kalimat “wahai amir”, panggilan yang dalam bahasa Arab berarti penguasa. Isi puisinya jelas: ditujukan pada mereka yang memegang kendali, mempunyai kuasa untuk mengatur, tetapi selama ini absen menjamin keadilan bagi pekerja sepertinya.

Ia menyebut diri dan rekan-rekannya sebagai “driver ojol Indonesia”, menempatkan mereka sebagai bagian penting dari penggerak ekonomi bangsa. Namun, posisi itu tidak diiringi dengan perlindungan yang layak. Ia juga menyebut algoritma sebagai “cambuk mandor”. Sistem digital yang mengatur pembagian order dan pendapatan berfungsi sebagai alat kontrol penuh untuk menentukan siapa mendapat kerja, berapa penghasilan yang diterima, dan seberapa lama mereka harus terus berada di jalanan.

Setelah selesai membacakan puisi, ia turun dari mokom tanpa banyak gestur. Tidak ada penutup yang dramatis. Ia kembali ke kerumunan seperti peserta aksi yang memegang banner, mendengarkan orasi, dan berteriak jika memang seruan diperlukan. Dari situ, aku mendekatinya dan mulai berbincang.

Hari Panjang yang Dimulai Pukul Empat Pagi 

Namanya Ida (50), ia berasal dari Serang, Banten. Jaket kuning yang ia kenakan di atas mokom bukan sekadar atribut, melainkan bagian dari kesehariannya sebagai pengemudi ojek online. Namun, pekerjaan itu bukan satu-satunya sumber penghidupan.

Sehari-hari, ia juga berdagang kue basah yang diambil dari orang lain untuk kemudian dijual kembali. Di sela waktu menunggu order atau setelah seharian di jalan, ia tetap harus memutar tenaga agar dagangannya habis. Bagi Ida, satu pekerjaan saja tidak cukup untuk bertahan. Penghasilan dari satu sumber kerap tidak mampu menutup kebutuhan yang terus berjalan.

Sekitar pukul empat pagi, ia sudah terbangun. Ia memulai hari dengan membersihkan rumah dan menyiapkan masakan untuk suaminya, sebelum akhirnya bersiap keluar untuk kembali bekerja. Jam 5 pagi, ia keluar untuk mengambil kue, lalu berangkat ke Merak dan berjualan di sana menggunakan motor. Jam 12 siang, saat selesai berdagang, ia melanjutkan untuk mengojek hingga magrib. Setelah pulang, ia kembali mengerjakan pekerjaan domestik yang masih menunggu untuk diselesaikan.

“Kalau dagang (kue) itu, saya dari Senin sampai Jumat. Nah, kalau ngojek enggak ada liburnya. Sabtu dan Minggu kita juga tetap ngojek, saya enggak ada liburnya. Kecuali memang ada acara keluarga, itu pun saya juga menyempatkan menyalakan (aplikasi) pastinya. Pokoknya, (bisa) istirahat itu pas tidur saja istirahatnya,” ujar Ida (01/05/2026).

Dalam praktiknya, bahkan “istirahat” pun bukan sesuatu yang mudah didapat. Ia mengaku, satu-satunya momen saat berhenti atau libur dari pekerjaannya adalah ketika tubuhnya memang dipaksa berhenti.

“Saya pernah sakit. Waktu itu saya diinfus 3 hari di rumah sakit. Tiga hari saya diinfus, karena kecapekan mungkin. Saya juga pernah bilang, kalau saya mah enggak pernah berhenti ngojek kalau jarum belum nusuk ke badan saya,” ujarnya sembari tertawa.

Pada kondisi seperti ini, bekerja bukan lagi soal pilihan, melainkan keharusan. Terlebih dalam sistem kerja yang tidak memberikan jaminan pendapatan, setiap hari menjadi upaya untuk terus mengejar cukup, bukan untuk lebih, tetapi sekadar agar kebutuhan dasar tetap terpenuhi.

Melalui kesehariannya itu, batas antara kerja dan tidak bekerja menjadi kabur. Tidak ada jam kerja yang pasti, dan tidak ada hari libur yang benar-benar utuh. Ida bergerak di antara dua dunia sekaligus: sektor informal yang tidak memberikan jaminan dan ruang domestik yang tetap menuntut kehadirannya tanpa negosiasi.

Risiko di Jalanan

Kurun waktu sehari, ia bisa menjalankan lebih dari satu aplikasi sekaligus. Order yang tidak menentu ini membuatnya harus “menyebar kemungkinan”, meski hasilnya tetap tidak pasti. Ida mengaku, dalam seharinya ia sering kali hanya mendapatkan kurang dari Rp100.000.

Selain jam kerja panjang dan penghasilan yang tidak menentu, ada risiko lain yang tidak kalah besar: relasi kuasa yang timpang antara pengemudi, pelanggan, dan sistem aplikasi itu sendiri. Sistem ini membuat pengemudi kerap tidak memiliki kendali atas penentuan order, penilaian, hingga keputusan yang langsung memengaruhi pendapatan mereka.

Ida bercerita, tidak jarang ia harus berhadapan dengan pelanggan yang tidak memahami situasi di lapangan. Ketika pesanan terlambat, kemarahan sering kali langsung diarahkan kepadanya. Padahal keterlambatan bisa terjadi karena berbagai faktor: sistem double order yang rumit dan pesanan yang masih harus dimasak oleh rumah makan. Namun, semua konsekuensinya tetap ia yang menanggung.

“Waktu dapat double order, jadi lama dong karena dua pesanan. Nah, sepanjang jalan itu customer ngechat terus. Kan saya bawa motor, kalau saya balas terus takut kecelakaan. Nah, waktu sampai di rumahnya, saya mau dibintangin satu, tapi saya cegah. Masalahnya, kalau sudah kena bintang satu, itu berpengaruh banget. Besoknya bisa sepi orderan. Enggak tahu deh, jadi driver kayaknya serba salah saja,” tuturnya.

Situasi menjadi semakin kompleks ketika ia harus menjalankan lebih dari satu pesanan dalam satu waktu bersamaan. Alih-alih efisien, kondisi ini justru memicu konflik dengan pelanggan yang merasa harus diprioritaskan. Dalam beberapa kasus, ketegangan itu bahkan berlanjut hingga keluar aplikasi, memperlihatkan betapa rentannya posisi pengemudi di hadapan konsumen.

Namun, sebagai perempuan, risiko yang dihadapi tidak berhenti di situ. Ida mengaku pernah mengalami situasi tidak nyaman saat mengantar penumpang laki-laki. Dalam satu kejadian, penumpang bersikap tidak pantas dan membuatnya merasa tidak aman di tengah perjalanan. Ia terpaksa menghentikan dan menurunkan penumpang lebih awal untuk melindungi dirinya.

Pengalaman seperti ini bukan hal yang berdiri sendiri. Ia juga melihat cerita serupa dari sesama pengemudi perempuan lainnya. Dalam ruang kerja yang bergantung pada sistem dan pertemuan acak dengan pelanggan, perlindungan terhadap pekerja perempuan masih sangat minim.

Kondisi ini terjadi bukan karena situasi yang layak atau menjanjikan, melainkan akibat tidak tersedianya pilihan untuk berhenti di tengah sesaknya ekonomi dan tekanan sistem kerja. Dalam sistem yang terus menuntut mereka untuk tetap berjalan, ruang kendali pengemudi menjadi sangat terbatas untuk menentukan arah hidupnya sendiri.




Penulis: Nandana Arieanta Putra P.

Editor: Reysa Aura P.