(Foto: Ilustrasi Ayah Melamun kepada Jendela/Pexel)
“Yah, kamu peduli sama aku kan?” ujar Lina sembari meringkuk memeluk kedua kakinya di sofa.
“Hey, hey kamu kenapa Lin? Ga biasanya kamu kayak gini,” ujar Ayah menenangkan.
“Gapapa kok, cuma mau nanya aja.”
“Coba liat muka Ayah, keliatan peduli ga sama kamu?” ujar Ayah memasang nyengir dari ujung bibir hingga kuping.
“Ih Ayah, Lina lagi serius tau, udah ah sana, Ayah malah ngeledekin mulu!” Lina memasang muka masam.
Ayah tertawa lalu mendekat kepada Lina untuk mengelus kepalanya.
“Lin, Ayah beneran peduli kok sama kamu, bahkan sayanggg banget sama Lina.”
“Beneran?”
“Iya bener Lin.”
Perlahan, kepala Lina pun bersandar pelan di pundak ayahnya.
Mereka terdiam cukup lama. Sesekali Lina mengusap ujung lengan bajunya, sementara Ayah membiarkan tangannya menetap di kepala gadis itu.
“Yah?”
“Heum?”
“Kalau Lina udah gede nanti, Ayah masih mau nemenin Lina kan?”
Ayah tersenyum. “Loh, emangnya sekarang Lina belum gede?”
“Ih, Ayah!”
Tawa mereka pecah sebentar, sebelum akhirnya mereda menjadi keheningan.
Tepat pukul 9 malam, handphone Lina berbunyi. Lina bangkit dari sofa, meraih gawainya, lalu meraih tas yang tergeletak di meja untuk mengeluarkan dompet dan beberapa lembar uang.
“Ini Yah buat hari ini.”
Ayah menerima uang itu tanpa banyak bicara. Ia merapikannya, memasukkan uang tersebut ke dalam dompet kecil di sakunya, kemudian berdiri untuk mengenakan jaket.
“Besok ujian kan? Belajar yang bener. Jangan begadang.”
Lina mengangguk “Iya Yah.”
Ayah mengacak rambut Lina untuk terakhir kalinya sebelum menuju pintu.
“Kalau ada apa-apa, hubungi Ayah, ya.”
Pintu tertutup.
Lina kembali duduk di sofa. Ia menatap tempat yang baru saja diduduki Ayah, lalu meraih ponselnya.
Di layar, pesan notifikasi mencuat kembali.
Pesanan Ayah — Sesi hari ini selesai, berikan ulasan untuk layanan anda.
Lina menatap layar beberapa saat. Jempolnya bergerak membuka kolom ulasan, mengetik sesuatu, lalu menghapusnya kembali.
Sementara itu di luar gedung, Ayah merapatkan jaketnya. Udara malam mulai menusuk. Ia berjalan menuju motornya sambil sesekali memeriksa ponsel, memastikan tak ada pesan dari pelanggan berikutnya.
Tidak ada.
Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Pada perjalanan pulang, Ayah mampir ke mie ayam langganannya. Ia memesan 2 porsi mie ayam seperti biasa.
“Sendirian aja Pak?”
“Iya nih, cuma bareng motor beat kesayangan aja.”
Penjual ikut terkekeh. Ayah ikut tertawa kemudian menerima bungkus makanannya, kemudian pulang.
Rumahnya tidak terlalu besar. Sebuah ruang tamu, dapur kecil, dan dua kamar yang salah satunya sudah tidak digunakan. Begitu pintu terbuka, ia menyalakan lampu dan meletakkan kunci di atas meja.
“Assalamualaikum, Ayah pulang.”
Ayah menghembuskan nafas, lalu menggantungkan jaketnya pada lemari yang terdapat banyak baju yang sudah lama tidak ia setrika.
Ia berpindah ke meja makan, membuka 1 bungkus mie ayam, kemudian mengambil ponselnya. Ada satu ulasan baru dari pelanggan hari ini.
“Terima kasih Yah. Hari ini Lina seneng banget.
Ayah membacanya dua kali, lalu membalas.
“Ya, sama-sama Lin.”
Ia meletakkan ponsel, lalu memulai memakan mie ayam kesukaannya. Namun, baru beberapa suap, gerakan tangannya terhenti. Tatapannya kosong, tertuju pada kursi di depannya dan 2 bungkusan mie ayam yang masih terlantar.
Ayah terdiam cukup lama. Sendok plastik di tangannya bergetar pelan.
“Ah, sudah—sudah.”
Ia menggeleng kecil, lalu menyantap kembali mie ayam yang sudah mulai dingin.
Usai makan, ia pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi, berkumur, kemudian mengusap mukanya penuh dengan air.
Setelah mengusap muka, Ayah bercermin. Di usianya yang menginjak kepala lima, rambut Ayah mulai dipenuhi uban, terutama di kedua pelipisnya. Keriput tipis menghiasi sudut matanya, sementara garis-garis di sekitar mulutnya tampak lebih jelas setiap kali ia tersenyum.
Sebelum tidur, Ayah mempunyai satu kebiasaan yang sama pada 5 tahun belakangan. Berkunjung ke kamar mendiang anaknya, menyalakan lampu, kemudian mengucapkan selamat malam seraya tersenyum.
Rachel. Ia meninggal lima tahun lalu, saat usianya baru menginjak 21 tahun. Sebuah mobil yang melaju kencang menabraknya ketika ia hendak menyeberang jalan. Ayah masih mengingat pesan terakhir Rachel, tanpa pernah menyangka bahwa itulah percakapan terakhir mereka.
“Yah, boleh tolong jemput Rachel ga, aku udah pulang kuliah nih.”
Saat itu Ayah masih sibuk bekerja karena deadline dari bosnya yang begitu padat. Akhirnya ia meminta Rachel pulang sendiri dan berjanji akan menjemputnya lain kali, sebelum kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaannya.
Sebelum mematikan lampu kamar Rachel, Ayah sempat bergumam.
“Maaf Chel, gabisa jagain dan nemenin kamu sampai gede.”
Lampu dimatikan.
Jam weker Ayah berbunyi tepat pukul 6 pagi.
Ia bangkit dari ranjang, lalu berjalan menuju meja makan. Di sana, satu bungkus mie ayam semalam masih tergeletak, tak tersentuh. Ayah memandangnya sekilas sebelum mengambil dan membuang isinya ke tempat sampah.
Pagi itu, sebuah pesanan masuk melalui aplikasi. Seorang Mahasiswi bernama Rani memintanya menemani perjalanan pulang dari kampus berjarak sekitar satu jam sampai rumahnya.
Ayah menyanggupi pesanan itu.
Pukul tiga sore, Ayah sudah tiba di kampus Rani. Ia memarkirkan motornya di dekat gerbang, lalu mengirim pesan bahwa dirinya sudah sampai. Beberapa menit kemudian, seorang perempuan menghampirinya sambil membawa tas besar. Ia sempat memeriksa layar ponselnya sebelum mendekat.
“Bapak yang dari aplikasi, ya?” tanyanya.
“Iya, Nak. Rani, kan?
Rani mengangguk. “Maaf ya, Pak, jadi ngerepotin.”
“Lho, kok ngerepotin? Ini memang kerjaan Bapak.”
Rani tersenyum kecil. Ia tampak masih bingung harus bersikap seperti apa. Sesekali ia membetulkan tali tasnya, lalu melirik motor yang terparkir di samping mereka.
Ayah memperhatikan kecanggungannya.
“Eh, tapi jangan panggil Bapak, dong.”
Rani mengernyit. “Kenapa, Pak?”
“Kayak dosen aja. Saya jadi berasa mau ngasih nilai.”
Rani terkekeh.
“Panggil Ayah aja. Sesuai sama yang kamu pesan.”
“Iya, Pak—eh, Yah.”
“Oke deh…… Nak?” Ayah mengucapkannya dengan nada yang dibuat-buat.
Rani kembali tertawa dengan lepas
Mereka meninggalkan kampus ketika jalanan mulai ramai. Awalnya, Rani hanya menjawab seperlunya setiap kali Ayah bertanya. Namun, setelah beberapa menit, ia mulai bercerita tentang tugas kuliah yang menumpuk, teman kelompok yang sulit diajak bekerja sama, hingga dosen yang gemar memberi tugas mendadak.
Ayah menanggapi ceritanya dengan beberapa candaan.
“Lah, kalau yang kerja cuma satu orang, terus yang lain ngapain?”
“Numpang nama, Yah!”
“Wah, kalau begitu, Ayah harus kuliah lagi. Biar bisa numpang nama juga.”
Rani tertawa sampai bahunya sedikit berguncang.
Obrolan mereka berlanjut. Rani bercerita tentang kebiasaannya menghabiskan waktu di kantin bersama teman-temannya setelah kuliah. Kadang mereka hanya membeli minuman, duduk berjam-jam, dan membicarakan hal-hal yang tidak ada habisnya.
“Pernah sampai sore banget, Yah. Padahal cuma niat makan sebentar. Pas pulang, Ibu udah ngomel karena aku belum makan di rumah.”
Ayah tersenyum tipis.
“Terus kamu jawab apa?”
“Ya, aku bilang udah makan. Walaupun sebenarnya cuma makan gorengan.”
Rani terkikik sendiri.
Ayah hendak tertawa, tetapi urung. Ada sesuatu dalam cerita itu yang membuatnya teringat kepada Rachel.
Dulu, Rachel juga sering bercerita tentang hal-hal kecil sepulang kuliah. Tentang teman yang menyebalkan, makanan yang ia beli bersama teman, atau bahkan dosen yang suka telat. Rachel bisa mengulang cerita yang sama dua kali, terkadang tiga kali, hanya karena Ayah belum benar-benar mendengarkan.
Biasanya, Ayah hanya menyahut sambil terus menatap layar laptop. Sesekali ia mengangguk, sesekali tertawa pada bagian yang bahkan tidak benar-benar ia pahami.
“Nanti cerita lagi ya, Chel. Ayah lagi banyak kerjaan.”
Rachel biasanya mengiyakan, lalu pergi meninggalkan ruang kerjanya.
“Yah?”
Suara Rani membuatnya tersentak.
“Iya, Nak?”
“Menurut Ayah, aku aneh enggak, sih? Suka cerita hal-hal enggak penting begini.”
Ayah memandang perempuan di belakangnya melalui kaca spion. Rani sedang tersenyum kecil, menunggu jawaban.
“Enggak, kok. Cerita aja.”
Ia berusaha membuat suaranya terdengar biasa.
“Lagian, kalau semua cerita harus penting, nanti Ayah kehilangan pekerjaan.”
Rani tertawa mendengar jawabannya.
Ayah ikut tertawa. Namun, kali ini ia harus memalingkan wajah sedikit lebih lama dari biasanya.
Ayah tahu pekerjaannya sederhana. Ia menemani orang pulang, mendengarkan cerita, sesekali bercanda, lalu menerima ulasan setelah mereka sampai di tujuan.
Belakangan, selain karena uangnya, Ayah juga mulai mengingat cerita-cerita kecil yang disampaikan pelanggannya. Kadang ia merasa telah melakukan sesuatu dengan benar ketika mereka tertawa atau mengucapkan terima kasih.
Namun, perasaan itu tidak pernah bertahan lama. Pelanggan akan pulang dan melanjutkan hidup masing-masing. Ayah akan menutup aplikasi dan mencari pesanan berikutnya.
“Yah, kok diam?” tanya Rani.
Ayah tersadar. Jemarinya masih menggenggam setang motor terlalu erat.
“Enggak apa-apa, Nak. Ayah cuma lagi mikir.”
“Mikirin apa?”
Ayah terdiam sesaat.
“Mikirin betapa banyaknya cerita yang ternyata harus didengarkan orang tua.”
Rani terkekeh.
“Makanya, Yah. Dengerin aja. Kadang aku juga enggak butuh solusi, kok. Cuma pengin cerita.”
Ayah mengangguk kecil.
“Iya. Ayah ngerti.”
Ketika akhirnya tiba di rumah Rani, Ayah memarkirkan motor dan membantunya menurunkan tas.
“Makasih ya, Yah. Aku senang bisa cerita banyak hari ini.”
Ayah mengangguk.
“Sama-sama, Nak. Hati-hati di rumah.”
Rani melambaikan tangan sebelum masuk. Ayah membalasnya dan menunggu sampai pintu tertutup.
Ia baru mengenakan helm ketika menyadari bahwa sejak tadi ia terus memikirkan Rachel. Bukan tentang kecelakaan itu, bukan pula tentang pesan terakhirnya. Kali ini, yang muncul justru hal yang jauh lebih sederhana.
Suara Rachel ketika bercerita.
Ayah mencoba mengingatnya, tetapi yang tersisa hanya potongan-potongan samar. Ia bahkan tidak yakin masih bisa mengingat bagaimana anaknya tertawa ketika menemukan sesuatu yang lucu. Lima tahun berlalu dan ingatannya perlahan berubah menjadi kumpulan kejadian yang tidak lagi utuh.
Ayah menyalakan mesin motor, lalu meninggalkan rumah Rani. Baru beberapa meter, ia menepi.
Kedua tangannya masih menggenggam setang. Ia menunduk, mencoba mengatur napas. Ada sesuatu yang menekan dadanya, sesuatu yang selama ini selalu berhasil ia singkirkan dengan bekerja, menerima pesanan, atau sekadar meyakinkan dirinya bahwa semua sudah berlalu.
Namun, sore itu, ia tidak berhasil.
“Sudah,” gumamnya.
Ia mengusap wajah, kemudian menarik napas panjang.
“Sudah.”
Kali ini suaranya lebih keras, seolah-olah ia sedang menegur seseorang yang tidak mau berhenti mengganggunya.
Ia kembali teringat pada hari ketika Rachel memintanya menjemput. Pada pekerjaannya yang belum selesai. Pada janji untuk menjemput lain kali. Pada semua hal yang saat itu terasa bisa ditunda.
Ayah memejamkan mata.
Ia tidak tahu berapa lama ia duduk di pinggir jalan sebelum akhirnya kembali berkendara. Ia hanya tahu bahwa ia tidak ingin pulang dengan perasaan seperti itu. Maka, seperti yang biasa ia lakukan, ia melanjutkan perjalanan dan membiarkan pekerjaan berikutnya menunggu.
Malamnya, Ayah tiba di rumah tanpa mampir ke warung mi ayam. Ia meletakkan kunci di atas meja dan menggantung jaketnya. Rumah itu sunyi. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat meja makan yang kosong. Ayah membuka dan menutup telapak tangannya. Sekali. Dua kali.
Ia mencoba menarik napas pelan, tetapi dadanya masih terasa sesak. Di meja itu, dahulu, ia pernah duduk sambil bekerja ketika Rachel bercerita tentang kuliahnya. Ia masih ingat bagaimana anaknya sesekali berhenti bicara untuk memastikan Ayah mendengarkan.
Ayah berjalan ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Air mengalir melewati pipi dan dagunya. Ia kemudian mengangkat kepala dan menatap pantulan dirinya di cermin.
“Sudah,” katanya lagi.
Kepalan tangannya terangkat hingga sejajar dengan wajah. Ia memandang tangannya sendiri, lalu menurunkannya.
Ayah berpegangan pada tepi wastafel. Napasnya semakin tidak teratur. Pikirannya kembali pada hari ketika Rachel memintanya menjemput, pada pekerjaan yang belum selesai, dan pada janji untuk menjemput lain kali.
Pandangannya beralih ke tangannya sendiri. Ayah menunduk. Bahunya mulai bergetar.
“Kenapa waktu itu Ayah enggak jemput kamu, Chel?”
Suaranya pecah.
“Kenapa, Nak?”
Ia memukul pelipisnya sendiri. Rasa nyeri menjalar, tetapi tidak menghentikan tangisnya. Tangannya kembali terangkat dan dengan cepat memukul bagian yang sama. Sekali lagi. Kali ini lebih keras.
Nafasnya memburu. Ia memukul kepalanya lagi, seolah-olah dengan begitu ia bisa menghentikan ingatan yang terus berputar di kepalanya.
“Ke—napa?”
Tangannya kembali terangkat, lalu berhenti sesaat sebelum ia memukul dirinya sendiri lagi. Air matanya membasahi wajah. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan dari semua ini. Mungkin hukuman. Mungkin jawaban. Atau mungkin ia hanya tidak tahu harus berbuat apa lagi dengan penyesalan yang selama lima tahun tidak pernah benar-benar pergi.
Ketika akhirnya tangan berhenti, Ayah masih terisak. Ayah akhirnya terduduk di lantai kamar mandi. Kedua tangannya menutupi wajah. Ia menangis tanpa mengeluarkan banyak suara, sementara keran yang belum ditutup terus mengalir. Beberapa lama kemudian, ia bangkit untuk mematikan keran, lalu berjalan menuju kamar Rachel.
Pandangannya menyapu ranjang, meja belajar, dan barang-barang yang masih tersimpan di tempatnya. Tidak banyak yang berubah sejak lima tahun lalu.
Ayah berdiri di ambang pintu.
“Selamat malam, Nak.”
Tak ada jawaban.
Ayah mematikan lampu dan kembali ke kamarnya.
Pagi harinya, Ayah terbangun dengan pipi yang terasa nyeri. Ia menyentuhnya sebentar, kemudian bangkit dari ranjang. Ponselnya bergetar di atas meja, sebuah pesanan baru masuk. Ayah membaca keterangannya, lalu menekan tombol untuk menerima.
Ia mandi dan mengenakan kemeja. Sebelum keluar, ia berdiri di depan cermin untuk merapikan rambut. Jemarinya sempat berhenti ketika menyentuh pipi yang nyeri.
Beberapa saat ia memandangi dirinya sendiri.
Lalu, seperti hari-hari sebelumnya, ia mengambil kunci motor.
Pintu ditutup.
Mesin motor terdengar menyala, kemudian menjauh dari rumah yang kembali sunyi.
Penulis: Nandana Arieanta Putra P.





0 Comments