Oleh : Nasir 
  
Di era modern dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan saat ini, sangat sulit mahasiswa menjawab pertanyaan, apakah Ingin menjadi sarjana yang berkualitas atau hanya titel sarjana.

Namun berdasarkan, catatan Badan Pusat Statisktik (BPS), bahwa jumlah pengangguran sarjana pada februari 2013 mencapai 360 ribu orang atau 5,04% dari total pengangguran yang mencapai 7,17 juta orang.

Sungguh miris jika kita melihat  angka pengangguran yang begitu banyak. Meski saat ini sistem pendidikan kita dikomersilkan, kita tidak boleh sepenuhnya menyalahkan kepada kampus atau sistem pendidikan nasional.

Kualitas mahasiswa tergantung setiap individu mahasiswa. Karena setiap mahasiswa harusnya bisa memposisikan diri, sebagai sarjana yang berkualitas atau sarjana yang bertitel.

Jika ingin menjadi sarjana yang berkualitas, mahasiswa harus bisa mengasah keintelektualannya. Tidak hanya duduk di bangku kuliah, tetapi juga di luar kuliah.

Untuk itu, banyak sarana yang bisa digunakan untuk mengasah intelektualnya, seperti masuk dan bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kampus dan juga organisasi ekstra.

Ketika mahasiswa berkecimpung dengan organisasi intra maupun eksternal kampus, saya yakin dia bisa mengasah daya intelektualnya dan juga bisa mengembangkan potensi dirinya.

Selain itu, mahasiswa juga harus sadar akan tri dharma perguruan tinggi, karena tridharma perguruan tinggi adalah pedoman bermahasiswa. Kelak nanti bisa menjadi sarjana yang benar-benar mengabdi kepada masyarakat dan tentunya berkualitas.

Saya sering  menemukan mahasiswa yang menganggap organisasi itu sebagai penghambat proses penyelesaian kuliah. Padahal mereka tidak sadar bahwa dengan berorganisasi akan lahir mahasiswa yang berfikir lebih produktif dan nantinya akan menjadi sarjana yang berkualitas.

Selain itu saya pernah menemukan teman saya yang baru lulus di salah satu perguruan tinggi negeri. Ketika itu dia pulang kampung, dia disuruh oleh masyarakat setempat untuk memimpin rapat panitia kegiatan. Ironisnya dia tidak bisa memimpin rapat. Dan masyarakat setempat mengatakan bahwa lebih pandai dari anak SD dari dia. Inilah salah satu bukti nyata sarjana yang tidak berkualitas.

Selain bisa mengabdi dan bisa memimpin masyarakat, sarjana yang berkulitas tentunya bisa membuka lapangan kerja sendiri, bukan mencari pekerjaan tapi pekerjaan yang mencari dia

Beda halnya dengan sarjana yang tidak berkualitas. Selain tidak ikut organisasi ekstra maupun intra, ketika ujian kuliah, ia juga menyontek untuk mendapatkan nilai A.

Ketika mereka sarjana dan melamar pekerjaan sangat jarang mereka diterima kerja, karena tidak berkualitas.


Penulis adalah Direktur umum LPM Marhaen UBK
 
"Tulisan ini pernah diterbitkan di  Kabar Kampus