Emir, Mahasiswa UBK
 

Ket foto : Pertemuan rahasia di akhir bulan Mei antara bos Next Media Li Zhiying (Jimmy Lai) dengan mantan    Wakil Menteri Pertahanan AS Paul Wolfowitz.


Marhaen- Jakarta, Mendekati tanggal 1 Juli, pertemuan rahasia antara Li Zhiying (Jimmy Lai) seorang kapitalis dibelakang layar Hongkong Merdeka dengan agen rahasia AS Paul Wolfowitz dianggap berita yang paling heboh. Beberapa bulan yang lalu, baru saja selesai revolusi warna dengan menghasut rakyat di Ukraina, Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden bertemu dengan pemimpin Hong Kong Merdeka sendiri ...... Berita tersebut membuat semua orang mencium bau busuk yang tidak nyaman.

Week East Hong Kong edisi 19 Juni telah mengungkapkan pertemuan rahasia di akhir bulan Mei antara bos Next Media Li Zhiying (Jimmy Lai) dengan mantan Wakil Menteri Pertahanan AS Paul Wolfowitz.


Kedua belah pihak tinggal di kapal pesiar milik Jimmy Lai selama lima jam. Dua orang dibelakang dan di depannya meninggalkan mereka sedangkan Mark Simon pimpinan eksekutif media yang cukup dengan partai di AS sedikit mendekati disebelah mereka.


Apa peranan dari Paul Wolfowitz dari pertemuan rahasia tersebut?


Ketika Presiden Amerika Serikat George W. Bush, Paul Wolfowitz bertanggung jawab sebagai Wakil Menteri Pertahanan AS. Paul Wolfowitz juga menutupi identitasnya sebagai agen intelijen AS kawakan. Jadi selama melaksanakan kebijakan perang dari Presiden George W. Bush, perusahaan militer AS memperoleh keuntungan yang sangat besar. Pada 16 Maret 2005, George W. Bush mengajukan Paul Wolfowitz sebagai presiden baru Bank Dunia, dan tak lama setelah itu, Dewan Bank Dunia segera menyetujui Paul Wolfowitz sebagai Direktur Eksekutif. 


Pelaksanaan "Rebalancing Asia-Pasifik" strategi AS saat ini, fokusnya adalah pada Asia dan Eropa dengan menciptakan ketegangan di mana-mana, memagari Tiongkok dan Rusia, penggunaan ketegangan yang mengancam sekutu AS untuk membeli senjata AS sendiri, meraup keuntungan yang besar bagi perusahaan persenjataan AS.

Bagaimana jalan ceritanya, agen rahasia AS kawakan tersebut datang ke Hongkong untuk menemui Jimmy Lai (kapitalis besar pimpinan Hong Kong Merdeka) dan Mark Simon (berkarir sebagai agen CIA). Pada akhir 2012, Jimmy Lai tiba-tiba melakukan divestasi dari Taiwan ke Hong Kong, dan juga berkoordinasi dengan orang Amerika dalam melaksanakan strategi AS "rebalancing Asia-Pasifik" untuk sepenuhnya bergerak dari Hongkok "pergi ke Tiongkok" dan untuk memperkuat interaksi antara Hong Kong dan Taiwan, serta siap untuk menggunakan Pemerintah Administrasi Hongkong dalam merebut kekuasan.


Barat berkolusi dengan faksi Hongkong Merdeka untuk merusak keamanan nasional Tiongkok memiliki sejarah yang panjang, tapi jelas terlihat tren penguatannya ketika Barack Obama menjalankan strategi rebalancing Asia-Pasifik, dan telah memutuskan untuk mengambil keuntungan dari separatis Turkistan Timur, separatis Tibet, Hong Kong Merdeka, dan kekuatan lainnya untuk mengekang Tiongkok dan untuk menumbangkan kekuasaan PKT di Tiongkok.


Tahun ini, Amerika Serikat menggunakan strategi penghadangan di Timur Tengah dan Eropa Timur, untuk lebih merangsang kekuatan kolusi ekstremis Amerika, termasuk kekuatan Turkistan Timur di Tiongkok, mendukung kekuatan Nazi di Eropa, di Timur Tengah melakukan pertukaran tahanan Al Qaidah dengan tahanan Al Qaidah lainnya untuk memperkuat kerjasama diantara mereka, sampai kepada dibalik serangan besar-besaran atas pemerintahan Irak saat ini oleh ISIS sebagai bayangan AS.


4 April tahun ini, Wakil Presiden AS Joe Biden di Gedung Putih bertemu dengan para pemimpin oposisi dari Hong Kong: mantan Sekretaris Kepala Administrasi Hongkong, Anson Maria Elizabeth Chan Fang On Sang dan Ketua Partai Demokrat Martin Lee Chu-ming, dan dan yang luar biasanya Joe Bidden mendukung sepenuhnya atas demokrasi di Hongkong. 


Kemudian dalam Kongres AS, ajudan senior mengatakan Kongres telah menerima usulan Martin Lee Chu-ming, direncanakan tahun depan untuk memulai kembali kerlompok kerja "Undang-Undang Kebijakan Hong Kong-AS," dan dalam jangka pendek merestrukturisasi kelompok kerja Hongkong yang telah dibubarkan, menunjukkan Kongres AS akan memperkuat intervensi urusan internal Hong Kong.

Seiring dengan mendekati pemilihan umum tahun 2017, Amerika Serikat sering mencampuri urusan Hong Kong. Clifford A. Hart Jr, Konsul Jenderal AS berulang kali turut campur dengan urusan politik di Hongkong dan pemerintah AS mengancam akan terus mendukung realisasi "hak pemilu" sebagai bentuk kemajuan di Hongkong.


Inggris juga meningkatkan aktivitasnya di Hongkong. Tahun lalu, Menteri Luar Negeri Inggris William Hague dalam "South China Morning Post" dan "Ming Pao Daily News" menerbitkan sebuah artikel dalam mendukung Hong Kong "hak pemilu" dan berjanji untuk memberikan "dukungan" untuk oposisi. 


Ini adalah gangguan Inggris dalam urusan internal Tiongkok, yang dapat dilihat, pasukan Inggris tidak benar-benar mundur di Hong Kong. Khuai Zheyuan Direktur Pusat Penilitian Strategi dan Pembangunan Hong Kong dan Makau juga mengatakan bahwa pasukan Inggris memiliki agen-agen mereka di Hong Kong, mereka bahkan mengharapkan agar agen-agen mereka tersebut dapat "mengembalikan kekuasaan kolonialisme", dalam hal ini adalah "kemerdekaan Hong Kong."

Lalu bagaimana strategi AS ‘Reblancing Asia-Pacific’ di Indonesia, strateginya bisa dinamakan ‘Skak-Mat’: Maju ke Depan Neolib Gaya Baru, Mundur ke Belakang Orba Gaya Baru. Serong ke Kiri, eh ada OPOR KAKI. Serong ke Kanan, eh ada ISIS.