(Foto: cover Zine "Pendidikan Demokrasi Untuk Semua"/Thomas)

Judul               : Pendidikan Demokrasi Untuk Semua

Penulis            : Ben K.C Laksana

Penerbit          : Pribadi

Tahun terbit   : 2021

Tebal buku      : 49 halaman


Zine "Pendidikan Demokrasi Untuk Semua" merupakan rangkaian essai berisi keresahan penulis, akan sistem pendidikan, politik, dan kaitannya dengan demokrasi di Indonesia. Menurutnya, tidak ada perbedaan dengan masa orde baru yang mengedepankan hierarki, keteraturan, struktur, formalitas, paternalisme, dan patriarki, serta mengelaborasi contoh nyata bagaimana negara melegitimasi kekerasan fisik atas dasar “keteraturan” dengan menggunakan berbagai teori sosial untuk menguatkan opininya. 

Dalam Zine ini juga, menjelaskan tentang bagaimana sistem pendidikan berperan dalam membentuk tatanan manusia yang “ideal” dan sebagai alat ideologis negara. Dalam hal ini, penulis sangat menyinggung konsepsi baru tentang arah pendidikan yang ditawarkan oleh Nadiem Makarim, yaitu Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Menurutnya ini adalah upaya pemerintah untuk mendefinisikan manusia “merdeka” yang malah menjadi manusia “homo economicus” dengan mencetak banyak manusia sebagai pemutar roda ekonomi semata. 

“Pendidikan, baik formal maupun informal, tidaklah netral. Ini adalah poin yang harus ditegaskan. Ia tidak netral dalam pengetahuan yang diajarkannya, atau posisi para pendidiknya terhadap beragam isu sosial, dan juga posisi sosio-politis institusi pendidikan yang menaungi ini semua”. 

Padahal pendidikan dapat memberikan manfaat, lebih dari segi ekonomi saja. Penulis menambahkan pendapat dari salah satu sosiolog W. E. B. Du Bois tentang cita-cita pendidikan yang luhur, “Cita-cita pendidikan, apakah manusia dididik untuk mengajar atau membajak (lahan), menenun atau menulis, tidak boleh dibiarkan tenggelam ke dalam utilitarianisme yang dangkal. Pendidikan harus menjaga cita-citanya yang luas, dan tidak pernah lupa bahwa pendidikan berhubungan dengan Jiwa dan bukan dengan Dolar”.

Untuk itu dalam prakteknya, ruang-ruang kontra hegemoni harus diciptakan untuk dapat membongkar sistem yang represif, di mana nilai tersebut tidak hanya berfokus pada kritik namun pembentukan nilai-nila yang ril. Karena nilai-nilai yang ditanamkan sudah bersatu, perlu adanya langkah kolektif untuk dapat menciptakan pendidikan kritis untuk menelusuri dan memahami lebih dalam struktur sosial, kebijakan, nilai dan budaya yang dirangkul masyarakat. 

Pemahaman akan demokrasi yang dangkal menjadi hambatan pendidikan kritis ini. Beberapa tokoh dan pemikir pendidikan kritis mengembangkan gagasan-gagasan yang membentuk suatu pendidikan yang berciri emansipatoris atau memerdekakan. Hal ini bertujuan untuk dapat memberikan pemahaman akan nilai-nila yang bebas dari penindasan yang secara tidak langsung ditanamkan dalam pendidikan formal. 

Demokrasi dalam konteks ini kemudian dikembangkan menjadi harapan akan terbentuknya sebuah dunia alternatif yang mengedepankan kepentingan dan kemerdekaan rakyat. Melalui pendidikan emansipatoris yang mengedepankan relasi antar manusia dengan manusia dimana ini sejalan dengan pemikiran Tan Malaka akan pendidikan yang mampu menumbuhkan kesadaran, membongkar tatanan atau relasi sosial yang tidak adil, dan mengembalikan kemanusiaan manusia.

Kelebihan dari zine ini adalah tulisan  progresif dan radikal yang mengkritik sistem pendidikan saat ini. Di mana, sudah jarang menemukan rangkaian essai yang mengkritik dan membedah sistem pendidikan dan mengkaitkannya dengan demokrasi. Sulit menyadari bahwa selama ini secara tidak langsung kita telah ditanamkan nilai-nilai yang represif dan tidak emansipatoris untuk mencapai tujuan negara.

Kita dipaksa untuk memahami bahwa tujuan pendidikan hanya untuk menciptakan tenaga kerja, dimana direalisasikan, melalui program Merdeka Belajar Magang Merdeka yang dalam prakteknya tidak lepas dari eksploitasi yang mengatasnamakan “pengalaman” atau “bagian dari pendidikan”. Kekurangannya yaitu, karena penulis memproduksi zine ini secara terbatas dan tidak terikat oleh penerbit, alhasil sulit menemukannya di beberapa toko buku. 

Secara keseluruhan, zine ini sangat saya rekomendasikan bagi masyarakat Indonesia, khususnya anak muda terutama untuk melawan kompleksitas nilai yang ditanamkan pemerintah yang sistematis dan menyadari bahwa untuk mengubah hal tersebut perlu adanya langkah kolektif untuk perlahan memberikan ruang-ruang kontra hegemoni dan menanamkan pendidikan emansipatoris. 
 


Note: Zine adalah media cetak yang biasa diproduksi secara perseorangan atau kelompok. 


Penulis : Thomas Budi Novianto
Editor : Devi Oktaviana