(foto: ilustrasi orang kelelahan bekerja/Na'ilah)

Marhaen, Jakarta - Sebagai manusia yang hidupnya terus melakukan persaingan secara ketat dalam berbagai bidang menyebabkan segelintir orang bekerja terlalu keras hingga mendorong diri untuk melakukan sesuatu di luar batas kemampuan diri sendiri. Hal tersebut dikenal dengan Hustle Culture atau Workaholism yang nantinya berujung pada pembentukan gaya hidup.

Hustle Culture sendiri terjadi lantaran beberapa hal yang menciptakan pemahaman keliru tentang apa itu kerja keras salah satunya didorong oleh Toxic Positivity di mana kita dipaksa berpikiran positif di situasi apapun, misal seseorang mengalami kelelahan sering kali akan terlintas bahwa "ini tidak begitu melelahkan banyak pekerjaan orang lain yang lebih melelahkan daripada ini" hal itulah yang dipercayai dan dipahami lalu dijadikan suatu acuan agar terus terusan bekerja tanpa kenal waktu.

Bukan hanya itu, standar sosial di masyarakat seringkali beranggapan bahwa jika seseorang bekerja keras maka ia akan sukses sehingga dari hal tersebut memacu keinginan untuk bekerja lebih keras di luar batas kemampuan diri.

Terkadang sebagian orang juga tidak menyadari bahwa dirinya telah terjebak dalam hustle culture. Bekerja berlebihan sering kali dianggap hal lumrah meski tindakan tersebut merupakan sesuatu yang tak sehat serta memiliki dampak buruk bagi orang itu sendiri, seperti:

1. Burn out 

(foto: ilustrasi orang mengalami burn out/freepik)

Kelelahan secara fisik maupun mental berujung pada ketidakmampuan lagi untuk melakukan suatu pekerjaan. Bukan hanya itu, hal ini juga akan berpengaruh terhadap pikiran sehingga menjadi lebih mudah mengalami stres.

2. Menyebabkan sakit secara fisik

(foto: ilustrasi orang mengalami serangan jantung/pinterest)

Kebanyakan akibat dari pekerjaan berlebihan adalah mengalami penyakit jantung. Hal ini dipicu oleh hormon stress yang tinggi sehingga resiko untuk mendapatkan penyakit tersebut lebih besar. Namun, sakit seperti migrain atau sakit kepala juga dapat terjadi karena kurangnya waktu tidur.

3. Timbulnya penyakit mental 

(foto: ilustrasi orang dihantui kecemasan/vecteezy)

Cemas berlebih dan depresi merupakan dampak buruk lain yang dapat terjadi jika kita terus bekerja tanpa kenal waktu. Lalu, berujung pada munculnya situasi takut, rasa bersalah, dan malu. Pada akhirnya, menimbulkan kasus-kasus kecemasan dan depresi.

4. Tidak pernah puas dengan pencapaian

(foto: ilustrasi orang sedang menunduk sedih/vecteezy)

Bekerja mestinya mempunyai batas, tetapi orang yang terjebak dalam hustle culture kerap kali tidak puas dengan apapun yang ia kerjakan hingga apapun yang ia telah capai dari hasil kerjanya.

Dari hal-hal tersebut tentunya membuat kita harus berpikir dua kali. Benarkah kita memang melakukan pekerjaan yang produktif atau malah berlebihan. Namun, permasalahan tersebut tentunya juga memiliki suatu solusi, yaitu:

1. Sadar dengan keadaan

(foto: ilustrasi orang bekerja dengan senang/freepik)

Kesadaran merupakan hal yang utama ketika kita tidak menyadari bahwa kita telah bekerja secara berlebihan, langkah awal ini bisa kita lakukan dengan menyadari bahwa tubuh kita mengalami beberapa respon-respon negatif akibat pekerjaan.

2. Mengatur kembali pola jam kerja

(foto: ilustrasi time management/freepik)

Tentunya akibat hustle culture jam kerja pastilah sangat tidak teratur. Perlunya mengatur ulang kembali seperti, berapa lama akan bekerja dan kapan akan beristirahat karena jam kerja yang efektif juga dapat menciptakan aktivitas kerja menjadi lebih efisien.

3. Evaluasi diri dengan orang berpengalaman 

(foto: ilustrasi orang sedang berkonsultasi/icons8)

Jika hal-hal dari dampak negatif yang terjadi telah menimbulkan aktivitas yang terganggu khususnya permasalahan mental, akan lebih baik jika menemui orang yang profesional di bidangnya agar mendapatkan bantuan untuk memulihkan keadaan.

4. Apresiasi diri terhadap segala pencapaian

(foto: ilustrasi orang mendapatkan penghargaan/pinterest)

Perlunya mensyukuri dan mengapresiasi diri sendiri ketika mendapatkan pencapaian, karena dengan begitu nantinya diharapkan akan berpuas diri dan berhenti membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain serta membantu untuk tahu sampai mana batas kita untuk bekerja.

Ketika nantinya dapat keluar dari budaya kerja yang buruk tersebut. Perlunya tetap mengingat bahwa pekerjaan memanglah hal yang penting, tetapi bekerja juga memiliki batas-batasan karena segala sesuatu yang berlebihan tentunya tidak baik dan pasti akan merugikan bagi diri sendiri.





Penulis : Na'ilah Panrita Hartono

Editor : Bintang Prakasa