(Foto: Ilustrasi Doomscrolling/Collegian.com)

Marhaen, Jakarta – Scroll media sosial kini melekat dalam rutinitas sehari-hari. Dari pagi hingga malam, membuka handphone terasa seperti refleks. Niat awal yang hanya sebentar sering berujung pada waktu yang berlalu tanpa disadari.

Kebiasaan scrolling berlebihan ini dikenal dengan istilah doomscrolling. Kondisi ini terjadi ketika seseorang terus-menerus mengonsumsi konten di media sosial hingga merasa lelah secara mental dan sulit berhenti. Perilaku ini sering muncul secara otomatis, dipicu oleh dorongan untuk selalu mengikuti informasi terbaru atau membandingkan diri dengan orang lain. 

Fenomena ini sering dianggap sepele karena terlihat seperti aktivitas santai. Padahal, kebiasaan doomscrolling kerap terjadi tanpa disadari dalam keseharian. Beberapa efek yang muncul akibat doomscrolling antara lain:

1. Kehilangan Fokus Secara Perlahan

(Foto: Ilustrasi Sulit Fokus/Radartasik.tv) 

Konten yang cepat dan terus berganti membuat otak terbiasa dengan hal instan. Ketika dihadapkan pada aktivitas yang menuntut konsentrasi dalam waktu lama, perhatian menjadi mudah goyah dan rasa bosan muncul lebih cepat. Akibatnya, kemampuan untuk mempertahankan fokus berkurang secara perlahan, sehingga tugas yang memerlukan perhatian mendalam terasa lebih berat dan menguras energi.

2. Membandingkan Hidup Sendiri dengan Orang Lain

(Foto: Ilustrasi Orang Kurang Percaya Diri/Abbalove Minniestries)

Media sosial sering menampilkan sisi terbaik dari kehidupan orang lain. Konsumsi berlebihan dapat memunculkan perasaan bahwa hidup sendiri terasa rendah nilainya, belum cukup berhasil, dan seolah selalu tertinggal dibandingkan orang lain. Perasaan tersebut perlahan berkembang menjadi rasa minder, menurunnya kepercayaan diri, serta keyakinan keliru bahwa pencapaian diri sendiri tidak pernah cukup.

3. Capek Mental Tanpa Alasan 

(Foto: Ilustrasi Keadaan Overthinking/Radartv)

Meskipun seharian tidak melakukan banyak aktivitas, kepala tetap terasa penuh. Kondisi ini sering membuat tubuh terasa lelah tanpa sebab yang jelas. Doomscrolling membuat otak bekerja terus-menerus tanpa jeda, sehingga suasana hati mudah berubah dan overthinking muncul tiba-tiba.

4. Gangguan Tidur

(Foto: Ilustrasi Gangguan Tidur/Dfun Station)

Terlalu banyak melakukan scrolling, terutama sebelum tidur, dapat mengganggu ritme tidur alami tubuh. Cahaya layar biru dan stimulasi konten membuat otak tetap ‘on’ sehingga sulit untuk tidur nyenyak atau bangun pagi dengan segar. Akibatnya, kualitas tidur menurun dan tubuh tidak mendapatkan waktu pemulihan yang optimal, meskipun durasi tidur terasa cukup.

5. Kecemasan dan Stres Berlebih

(Foto: Ilustrasi Ekspresi sedang Cemas/Veectezy)

Paparan berulang terhadap berita negatif maupun konten dramatis dapat meningkatkan rasa cemas secara perlahan, terutama ketika otak terus menerima rangsangan tanpa kesempatan untuk beristirahat dan memproses informasi dengan tenang. Seiring waktu, hal tersebut membuat stres bisa menetap meskipun rutinitas harian berjalan normal, sehingga tubuh dan pikiran tetap dalam keadaan waspada yang menguras energi emosional.

Kesadaran akan durasi penggunaan serta efek yang timbul setelah melakukan scrolling dalam waktu lama perlu terus ditingkatkan. Mengurangi doomscrolling tidak harus dilakukan secara ekstrim, tetapi bisa dimulai dari langkah sederhana, seperti memberi jeda dari layar, membatasi durasi scroll, atau memilih konten yang lebih menenangkan.

Dengan begitu, media sosial tetap bisa dinikmati tanpa harus mengorbankan kesehatan mental. Scroll bukanlah hal yang salah, selama dilakukan secara sadar dan tetap menjaga keseimbangan pikiran. Ketika scrolling mulai terasa melelahkan dan mengganggu keseharian, hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan jeda dari layar.




Penulis: Zalfa Vanesha Az Zahra

Editor: Reysa Aura P.