Marhaen, Jakarta - Rencana peningkatan anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) dan gaji karyawannya kembali menjadi sorotan publik. Isu ini juga menimbulkan perhatian terhadap kondisi kesejahteraan guru yang dinilai masih belum merata, sekaligus menyoroti bagaimana kebijakan pendidikan dijalankan di lapangan.
Program MBG digagas untuk pemenuhan gizi anak sekolah, dengan kenaikan anggaran yang turut menyoroti kesejahteraan guru. Kondisi ini memicu perbincangan publik dan tercermin pada mahasiswa pendidikan yang mulai mempertimbangkan opsi karier di luar profesi guru.
Anindita Putri Bayuaji, Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, menyebut selama menempuh kuliah, ia semakin mempertimbangkan kemungkinan bekerja di luar profesi guru.
“Beban kerja guru besar, bukan cuma mengajar. Tapi kesejahteraannya masih jauh dari sebanding, apalagi guru honorer,” ujarnya saat diwawancara. Sabtu (31/01/2026).
Menurut Anindita, polemik MBG memengaruhi cara pandangnya terhadap profesi guru. Ia melihat kondisi kesejahteraan guru saat ini belum sebanding dengan beban kerja yang dihadapi, meski sejumlah kebijakan pendidikan sudah diterapkan.
“Isu ini (anggaran MBG naik) ngaruh banget ke cara pandang aku. Guru itu kunci utama pendidikan, tapi justru bukan yang diutamakan. Jadi wajar kalau akhirnya mikir ulang mau jadi apa ke depannya,” katanya.
Nada serupa datang dari Gya Noza Talenta Maharani, Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Universitas Lambung Mangkurat. Ia secara terang-terangan menyoroti bagaimana prioritas kebijakan pendidikan saat ini dijalankan.
“Ketika guru sebagai pelaku utama pendidikan masih bermasalah soal gaji dan status kerja, tapi anggaran besar dialokasikan ke program lain, itu menunjukkan persoalan prioritas,” tegasnya. Selasa (03/02/2026).
Bagi Gya Noza, kebijakan pendidikan dinilai telah memuat keberpihakan secara konseptual, sementara pelaksanaannya belum merata di lapangan. Ia melihat masih adanya jarak antara kebijakan yang dirancang dan kondisi yang dihadapi guru di lapangan.
“Secara konsep mungkin keberpihakan itu ada, tapi praktiknya belum merata. Di atas kelihatan baik, di bawahnya masih banyak masalah,” ujarnya.
Situasi ini berdampak langsung pada cara mahasiswa pendidikan memandang masa depan profesi guru. Baik Anindita maupun Gya Noza menyatakan pernah mempertimbangkan pilihan karier di luar profesi guru setelah lulus. Pertimbangan itu didorong oleh faktor kesejahteraan, kepastian kerja, dan peluang ekonomi di luar sektor pendidikan.
“Sering mempertimbangkan untuk nggak jadi guru setelah lulus. Faktor utamanya karena kesejahteraan dan kepastian kerja yang masih nggak jelas, sementara tekanannya besar. Kadang kepikiran, takutnya sudah menanggung banyak beban, tapi secara ekonomi justru nggak aman,” kata Anindita.
Gya Noza bahkan menyebut dirinya pesimis. Menurutnya, nilai peluang karier di luar profesi guru kini lebih menjanjikan secara ekonomi, meski pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari jurusan pendidikan tetap bisa digunakan.
“Bukan karena nggak mau mengabdi, tapi kita realistis aja. Aku pengen hidup layak,” ujarnya.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, keduanya sepakat bahwa profesi guru akan semakin kehilangan daya tarik di mata generasi muda. Jurusan pendidikan tetap akan diisi mahasiswa, walau tidak lagi menghasilkan lulusan yang menjadikan profesi guru sebagai pilihan karier jangka panjang.
“Ujung-ujungnya kualitas pendidikan juga yang terganggu. Mahasiswa pendidikan emang masih ada, tapi banyak yang nggak benar-benar mau jadi guru,” ujar Anindita.
Polemik seputar MBG turut membentuk cara pandang mahasiswa pendidikan terhadap profesi guru. Sejumlah mahasiswa mengaitkan isu tersebut dengan kondisi kesejahteraan dan kepastian kerja guru yang dinilai belum memadai.
Anindita dan Gya Noza selaku mahasiswa pendidikan, mengaku pertimbangan ekonomi dan status kerja menjadi faktor utama dalam memikirkan pilihan karier setelah lulus. Keduanya menilai beban kerja guru belum sebanding dengan jaminan kesejahteraan yang diterima, terutama bagi guru honorer.
Pertimbangan tersebut membuat sebagian mahasiswa pendidikan mulai membuka kemungkinan berkarier di luar profesi guru, meski tetap mengandalkan kompetensi yang diperoleh selama kuliah. Pilihan ini muncul sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi lapangan yang mereka nilai belum sepenuhnya menjamin kesejahteraan dan kepastian kerja bagi tenaga pendidik.
Penulis: Reysa Aura P.
Editor: Anisa Tri Larasety





0 Comments