Semua pagiku adalah hari Sabtu
yang terjebak di bulan Februari—
tak ada habisnya,
seolah ada yang bisa abadi.
Kusapa buket mawar merah muda,
kupandang lamat-lamat
yang dikelilingi gypsophila
sebagai banyaknya doa.
Aku tersenyum,
terjebak dalam memori
yang selalu mekar mewangi.
Bunga akan layu; ingatanku mustahil.
Aku menuduhmu telah berdusta;
kau berkata akan memberikanku ratusan bunga lily.
Nyatanya, hanya mawar merah muda
dengan filosofinya.
Kau berkata, “Akulah duri cinta di sekujur mawar ini.”
Dikecupnya punggung tanganku.
Lalu kukatakan, “Aku kan bunga lily, kau tidak menyertaiku!”
Kau berbisik, “Kau tegak di situ, mawar merah muda merekah.”
Telah rontok amarahku.
Barangkali pikiran itu melintas sesaat.
Aku digoda masuk ke kepalamu
agar bisa memahami tanpa menghakimi.
Satu per satu pintu kukunjungi.
Sepanjang malam itu kau membuatku terus maju.
Cahaya kamera berkedip, “Selamat datang, memori baru!”
Aku terbuai, memutarmu ke dalam semua puisiku.
Meletakkan seluruh kenangan
dengan sangat hati-hati,
mengunci rapat-rapat dalam ingatan—
kita berpandangan.
Kini aku terjepit di sela-sela gypsophila:
putih, suci—itulah doa
yang menyaksikanku mekar dan semerbak,
sampai layu; tetapi, oh, tidak dengan duri.
Kau mengutip puisi Eyang Sapardi,
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
Iya, kita abadi dengan segala konsep kehidupan.
Aku akan layu, tetapi aku layu bersamamu.
Rasa sayangku mungkin bisa dibilang radikal.
Bunga mawar bisa dijadikan kompos, tidak dengan durinya.
Bisa—butuh waktu lama untuk terurai.
Tak masalah; pada akhirnya kita terurai bersama.
Aku ingin bersamamu lagi
dalam konsep kehidupan apa pun.
Aku ingin bertemu bulan Februari lagi—
walaupun kita telah terurai menjadi pupuk kompos.
Penulis: Fitria Salma





0 Comments