(Foto: Dua Cangkir Kopi dan Suasana Kota Paris/Reysa)

Tanggal itu datang lagi, 

dengan pita merah

yang diikatkan pada hampir segala hal.


Di Paris, 

jendela-jendela memajang bentuk hati,

seolah cinta selalu punya garis tegas

dan warna yang pasti.


Menara Eiffel berdiri tanpa ragu. 

Tinggi, kokoh,

seakan dunia tahu persis

ke mana ia mengarah.


Namun di suatu sudut kafe kecil,

di antara kursi besi dan cangkir yang mengepul,

ada sepasang kursi

yang saling berhadapan

tanpa janji.


Tak ada kembang api

di langit Montmartre.

Tak ada tepuk tangan

di tepi Sungai Seine.


Hanya dua bayang

yang belajar duduk lebih dekat

tanpa saling menuntut terang.


Salah satunya masih menyimpan

retakan lama di dadanya, 

retakan yang tak terlihat,

kecuali saat malam Paris

terlalu indah

untuk tidak dibandingkan

dengan yang telah pergi.


Yang lain tidak bertanya banyak.

Ia hanya meletakkan tangannya

di atas meja, 

cukup dekat

untuk disentuh

jika ingin.


Di luar, turis-turis berfoto,

meyakinkan diri

bahwa kota ini diciptakan

untuk kepastian.

Di dalam,

lampu kecil menyala pelan,

tak berani tinggi,

tak ingin padam.


Barangkali cinta tak selalu butuh

sorai Paris untuk merasa hidup.

Kadang ia hanya tumbuh

di antara dua ragu

yang memilih tinggal, 

meski belum sepenuhnya yakin.


Dan mungkin,

pada tanggal empat belas,

yang perlu dirayakan

bukan romantisme kota,

melainkan keberanian

untuk tetap duduk

di hadapan satu sama lain.




Penulis: Reysa Aura P.