(Foto: Poster Film "Past Lives/a24films.com)

Judul: Past Lives 

Genre: Drama, Romantis

Sutradara: Celine Song

Tahun Rilis: 2023

Distributor: A24, CJ ENM CO., dan lain-lainnya

Durasi: 106 menit

Film ini dibuka dengan adegan sepasang kekasih di sebuah bar yang memperbincangkan tiga orang di seberangnya. Ketiga orang tersebut adalah Nora, Hae-Sung, dan Arthur. Sepasang kekasih itu menebak-nebak mengenai hubungan ketiganya; apakah hanya sebatas rekan kerja atau dua di antaranya merupakan sepasang kekasih. Obrolan dari sepasang kekasih tersebut turut dirasakan oleh penonton film ini, termasuk saya selaku penulis yang ikut menerka-nerka.

Kemudian film tersebut mundur ke masa lampau, sejauh 24 tahun yang lalu, ketika Na-Young dan Hae-Sung masih menginjak bangku sekolah dan dua orang tersebut satu kelas serta saling suka (cinta?). Ada adegan Na-Young sedang mengobrol bersama ibunya di meja makan, ibunya bertanya “Siapa yang sedang kamu sukai di sekolah?” kemudian Na-Young menjawab “Hae-Sung. Aku ingin menikah dengannya”.

Setelahnya, ibunya berkata “Apakah kamu ingin berkencan dengannya?”. Mendengar hal tersebut Na-Young langsung gembira dan berbunga-bunga harinya. Akhirnya Na-Young dan Hae-Sung berkencan di sebuah taman, ditemani oleh ibunya masing-masing. Ibunya Na-Young mengatakan sesuatu hal kepada ibu dari Hae-Sung, “Na-Young akan pindah ke luar negeri, aku ingin membuat kenangan manis untuknya”.

Setelah itu, Na-Young bersama keluarganya bermigrasi ke Kanada dan juga Amerika Serikat. Na-Young memiliki nama baru saat meninggalkan Korea, yakni Nora. Dirinya mempunyai cita-cita, yakni menjadi penulis dan mendapatkan penghargaan, seperti Nobel, Pulitzer, maupun yang lainnya. Mungkin terlihat ironis, ketika melihat cinta harus tersingkir untuk mencapai cita-cita.

Ketersingkiran tersebut bukanlah sekadar perihal cita-cita dan cinta saja, tetapi ada satu hal yang mengganggu dan merampas dua unsur tersebut, yakni bernama sistem kapitalisme. Sekarang, kita lihat dan bayangkan bahwa laju kota sangat cepat, seakan-akan kita tidak boleh istirahat, sakit, bengong. Detail-detail kecil terkait keluhan yang kita rasakan merupakan sebuah akibat dari sistem kapitalisme sialan.

Sistem Kapitalisme yang Menyusup dan Merampas Hubungan Romansa

Sering kali kita melihat teman di sekitar kita, pada media sosial, maupun dalam film Past Lives ketika Nora memilih untuk mengejar cita-cita ataupun ambisinya dan meninggalkan seseorang yang dicintainya. Hal tersebut harus kita lihat lebih (radikal) mengakar, yakni sistem kapitalisme dan patriarki yang telah melekat ini sebenarnya mengganggu dan merampas dengan pelan hubungan romansa kita dalam kehidupan sehari-hari.

Dapat kita bayangkan, dalam sehari-harinya kita hanya memiliki bebas waktu sebanyak 2-3 jam saja, karena sisanya dihabiskan oleh antrean di transportasi umum, bekerja, bekerja, dan bekerja. Bahkan, bagi beberapa orang tak memiliki kebebasan waktu dalam kehidupannya. Realita tersebut sangat nahas, karena kita selalu dipaksa ‘lari’ dalam hidup ini, hingga tak memiliki waktu dan tenaga untuk merawat hubungan romansa kepada pasangan kita. 

Kemudian, yang terjadi dan dirasakan oleh Nora saat menemukan Hae-Sung dan mulai berkomunikasi kembali (Video Call) melalui Skype, dirinya seperti menemukan semangat baru. Melihat adegan-adegan Nora dan Hae-Sung setiap hari berkomunikasi, ada pertanyaan di kepala yang berlalu-lalang di kepala saya “Apakah ambisi yang kamu kejar selama ini hanya buat nutupin kalo kamu dan kita semua itu sebenarnya adalah manusia yang rapuh?”. 

Kerapuhan tersebut dapat dilihat dalam adegan Nora yang meninggalkan Hae-Sung dengan alasan “Seharusnya aku fokus sama impian ku bukannya duduk berjam-jam dan melihat tiket pesawat hanya untuk bertemu denganmu”. Jika kita melihat sekilas adegan ini terasa bahwa Nora sangat jahat dan menyesakkan bagi Hae-Sung, tetapi ada bahasa-bahasa liyan yang memperlihatkan bahwa pilihan tersebut juga sangat menusuk bagi Na-Young. Serta, sistem kapitalisme ini memaksa kita semua untuk selalu bekerja, takut terlihat rapuh, dan cemas jika akhirnya tidak jadi ‘apa-apa'.

Makna-Makna yang Mengumpat dalam Komunikasi Non-Verbal

Dalam film ini yang sangat menarik dan membuat berkesan bagiku adalah bahasa-bahasa yang tidak dilisankan, tetapi kental makna, seperti perpisahan pertama kali antara Na-Young dengan Hae-Sung selepas pulang sekolah dan Hae-Sung hanya menunduk memainkan bola basketnya serta mengucapkan “selamat tinggal” kepada Na-Young dengan sekadarnya. Dalam adegan tersebut, saya melihat ada emosi yang dipendam oleh Hae-Sung dan berujung mengendap selama 24 tahun. 

Kemudian, pilihan tempat dan pengambilan video saat perpisahan tersebut juga memiliki sebuah interpretasi tersendiri bagiku, yakni penggambaran jalan menanjak yang dilalui oleh Na-Young berupa undakan tangga dan menanjak, sementara Hae-Sung lurus begitu saja. Momen tersebut bagiku seperti menggambarkan bahwa Na-Young tetap menjalani hidupnya dari tahap ke tahap (menjadi penulis) sedangkan Hae-Sung hidupnya tertinggal di masa itu walaupun umurnya selalu bertambah. 

Selanjutnya, dalam pengambilan video ketika Hae-Sung bertemu kembali dengan Na-Young, mereka berdua duduk dan di belakangnya terdapat wahana komedi putar. Pada saat itu, menurut saya Celine Song selaku sutradara seakan ingin menunjukkan bahwa kedua orang tersebut berdiam secara fisik dan lisan, tetapi banyak pikiran dan perasaan yang berputar-putar di dalamnya. 

Tak hanya itu, adegan dan pengambilan video yang sering kali diposting ulang oleh warganet, yakni saat Nora, Hae-Sung, dan Arthur bercengkrama di sebuah bar. Kegelisahan Arthur di tengah-tengah obrolan antara Nora dan Hae-Sung yang tidak dimengerti bahasanya, momen diam dan kegelisahan Arthur yang termuat dalam mimik wajahnya tersebut merupakan hal yang sentimental buatku. 

Bagiku film ini memiliki detail-detail kecil yang muatan maknanya lebih kental, serta beragam interpretasi didapatkan saat menonton film ini tergantung proses dan pengalaman penonton dalam melihat cinta dan detail lainnya. Saya sendiri setelah beberapa kali menonton ulang film ini, sesak dan sedih masih menggandeng saya hingga sampai saat ini, tetapi ada hal yang baru saya dapatkan, yakni banyak sekali makna yang mengumpat di balik bahasa, mimik, gestur, maupun pemilihan tempat dalam film Past Lives.




Penulis: Bintang Prakasa

Editor: Reysa Aura P.