(Foto: Kucing Jalanan/Pinterest)

Aku adalah seekor kucing Calico atau biasanya lebih dikenal dengan sebutan kucing belang tiga. Aku hidup hanya bersama dengan mama, semua saudaraku telah meninggal. Papaku pergi setelah mama mengandung aku dan saudara-saudaraku dalam perutnya. Aku tidak tahu papa ke mana, banyak asumsi di kepalaku mengenai perginya papa. Apakah papa diadopsi oleh seorang manusia, atau papa pindah dari wilayah kami, atau papa sudah mendapatkan pasangan betina di wilayah lain dan mempunyai beberapa ekor anak lucu sehingga papa enggan untuk menemui kami. Atau papa sengaja membiarkan kami hidup sengsara dan dia bisa berkeliaran bebas di alamnya? 

Hiruk-pikuk pasar membuat seekor kucing kesulitan untuk mencuri seekor ikan mentah, karena bisa saja terinjak-injak dengan kaki manusia dan bahkan hal tersebut bisa menyebabkan kehilangan nyawa. Dan hadirlah papa sebagai pahlawan kesiangan, ia membawa seekor ikan lele dengan gagah untuk mama. Malangnya mama termanipulasi karakter palsu papa yang gentle dan provider hanya karena seekor ikan lele? Menurutku papa tidak sehebat itu, dia sudah mendapatkan takdir untuk lahir dan tumbuh sebagai pecundang. 

“Mama, tolong berikan aku kepercayaan, bahwa ketika aku tumbuh besar nanti, aku bisa membawakan banyak ikan untuk mama, bahkan ikan tuna dan salmon yang mahal sekalipun. Tolong hidup lebih lama, aku tumbuh besar memakan waktu yang lama. Aku tidak ingin kepercayaan yang telah mama berikan kepadaku menjadi sia-sia. Hidup lebih lama ma, karena hidupku untukmu.” 

Aku si kucing belang tiga yang dipercayai oleh orang-orang membawa keberuntungan, hoki, atau rezeki. Itu kata mereka, orang-orang yang mempercayai mitos tersebut. Aku tidak bisa memandang diriku seberkah itu. Lucunya mama menjadi salah satu dari mereka yang mempercayai mitos tersebut. Memangnya kalau aku benar si kucing pembawa berkah, berkah apa yang telah mama dapatkan karena aku? Lagi pula dengan aku yang dilabelkan sebagai berkah pun, aku tidak bisa menarik perhatian para manusia untuk mengadopsiku, bukan berarti aku meninggalkan mama sendiri, mama pasti ikut bersamaku, akan kupastikan itu. Jika tidak, aku tidak ingin itu terjadi, aku akan tetap bersama mamaku dalam keadaan apapun. 

Mereka, para manusia hanya berlalu-lalang bergantian mengelusku dengan lembut, serta memotretku dengan mama, setelah itu mereka pergi. Aku tidak semenarik itu, aku tidak bisa membawa berkah ke diriku sendiri apalagi ke mama. Aku cuma kucing biasa, kucing medioker. Oleh karena itu, aku tidak bisa menarik perhatian mereka untuk mengadopsi kami, aku tidak bisa membawa mama ke dalam kehidupan yang layak. Aku bukan seekor kucing yang bernama Bobby Kertanegara dengan hidup beruntung itu setelah diadopsi oleh seorang presiden. Tinggal di istana yang megah dan bahkan keluar istana pun dijaga oleh pasukan khusus pengawal presiden? Ia sama sepertiku, seekor kucing, bukankah hal itu berlebihan? Atau aku hanya iri sehingga membandingkan kehidupanku dengan kucing istana itu?

Aku bermimpi untuk mendapatkan kehidupan layak. Layak, bukan mewah. Aku tidak bermimpi dikawal oleh penjaga khusus di saat aku bermain keluar seperti si Bobby itu. Aku tahu kapasitas diriku, aku tidak berminat untuk bermimpi secara berlebihan. Setidaknya aku mempunyai harapan sederhana, yang mungkin suatu hari nanti tercapai, aku berharap semesta bersikap lembut ke mamaku. Aku sedih melihat mama yang meminum air dari genangan hujan, air genangan itu kotor! Air itu sudah terkontaminasi banyak zat berbahaya, aku takut mama keracunan karena meminum air itu, setidaknya mama minum air yang mengalir bersih. Aku ingin melihat mama tidur setidaknya beralaskan kardus, tidak merasakan aspal jalanan secara langsung atau lantai yang dingin serta kotor. Aku ingin mama makan dengan tenang tanpa harus membagikan makanannya kepadaku. 

Aku tahu bahwa mama perlu makan dengan cukup karena pada akhirnya aku menghisap air susunya, sehingga secara tidak langsung aku mengambil makanan yang telah berada di dalam tubuhnya. Aku merasa mengambil seluruh milik mama. Aku bingung bagaimana mengembalikan semua hal yang telah mama berikan. Karena bahagiaku adalah melihat mama bahagia, bagaimana caranya aku bahagia di saat mama membagikan jatah makanannya untukku? Hatiku teriris perih melihatnya, bagaimana caranya aku berpura-pura terlihat bahagia dan menerima ini di hadapan mama? Bagaimana caranya aku bahagia di saat mama berkorban untukku? 

Mitosnya aku memiliki sembilan nyawa. Jika hal itu kebetulan menimpa diriku, aku ingin menjadi anak mama lagi, atau menjadi seorang manusia yang merawat hewan kesayangannya dengan penuh cinta kasih. Aku akan memberikannya tempat tidur yang layak dengan selimut hangat, tidak akan membiarkan ia menggigil karena kedinginan. Aku akan memberikannya makanan dan minuman di wadah khusus, bukan langsung tergeletak di tempat kotor seperti aspal jalanan. Aku akan mengajaknya jalan-jalan sore ke taman menikmati hijaunya dedaunan, tanpa harus mengorek-ngorek tempat sampah mencari tulang ayam atau ikan untuk dimakan. Aku akan membawanya ke tempat grooming untuk mandi dengan baik serta melakukan perawatan untuk keberlangsungan hidupnya, bukan hanya dengan air hujan lalu mengering dengan sendirinya karena panasnya suhu udara, dengan pantulan cahaya matahari. 

Semesta terlalu keras dan kasar untuk mama, maka aku hadir di samping mama yang setidaknya memberikan kelembutan untuknya. Mama berkata sebelum aku lahir, ia merasa selalu sendiri. Mama berkata bahwa dengan lahirnya aku adalah berkah baginya, karena mama tidak sendiri lagi, tidak sendiri saat mencari makan, tidak sendiri saat makan, bahkan saat tidur karena aku bisa memeluknya dan memberikan kehangatan dikala dinginnya suhu malam hari. Dan mama tidak perlu takut lagi makanan pemberian dari manusia diambil kucing liar lain, karena adanya aku. Aku si kucing belang tiga anak mama yang berani dan galak, aku berani mencakar bahkan menggigit siapapun yang mengganggu diriku dan mama. Ya, aku keras terhadap semuanya, terkecuali mama. 

Hari-hari berganti, dan juga karakterku. Aku tumbuh dengan baik. Berkat mama. Mama mengajarkanku bersikap lemah, lembut, lucu, dan tulus. Aku menerapkan itu, cuma ya itu palsu, karena aku tau segala hal yang dilakukan antar pihak adalah simbiosis mutualisme, sedangkan mama tidak mengharapkan balasan atas kebaikannya selama ini, maka dari itu, aku tulus dan transparan hanya untuk mama. Mama tidak mengajarkan aku menjadi seperti itu, tetapi, aku juga punya karakter sendiri. Setidaknya aku bisa berpura-pura untuk kebaikan diriku, serta mama. Selama hidup di jalan aku hanya berusaha bertahan dan menghindar jika manusia ataupun kucing lain menggangguku. Berbeda dengan sekarang, aku sudah menjadi anak kucing pemberani, paw ku masih mencerminkan kelembutan; yang hanya ku pergunakan untuk mengelus mama dan berjabat tangan dengan manusia jikalau mereka memintaku, namun, tidak dengan kuku panjangku; aku berani mencakar untuk yang membuat kerusuhan dalam hidupku dan mama. 

Dunia terlalu cepat untuk kucing lamban sepertiku, namun hari demi hari aku mengalami sedikit perubahan karakter menjadi lebih baik, sedikit. Aku berjalan perlahan-lahan dengan langkah yang stabil, stabil lambannya. Aku tidak langsung bisa ada di posisi paling atas seperti halnya yang dialami si Bobby Kertanegara yang tinggal di istana megah itu, namun, setidaknya aku sudah bisa membawakan mama makanan. Seperti saat ini, aku diberikan seekor ikan nila mentah oleh seorang penjual ikan di pasar, hanya karena aku berdiam diri dengan memperhatikan satu persatu pelanggan yang membeli ikan dan mata mereka tertuju kepadaku karena menganggap aku “polos dan penurut”. Aku takjub, manusia mudah sekali menilaiku, mereka bisa tertipu dengan hanya sekali memandang saja. Aku pun mendapatkan makanan sachet dengan rasa ikan tuna, rasanya enak dan mahal. 

Aku merasa bersalah karena aku makan tanpa mama, tetapi, ibu penjual ikan ini baik sekali kepadaku; dia memberikan seekor ikan nila yang ukurannya tidak kecil, dia telah memilih ukuran ikan nila yang setidaknya mengenyangkan untuk ukuran perut kucing, sungguh sangat detail dan tulus. Alhasil, aku membawakan ikan nila ini untuk mama, aku persembahkan ini untuknya. Aku menceritakan segala hal yang terjadi saat aku berada di pasar itu ke mama. Mama menganggapku keren karena aku tumbuh dengan baik. Aku senang melihat mama senang dan makan dengan tenang tanpa harus membagikan makanannya kepadaku lagi. 

“Mama, hari ini aku membawakan mama ikan nila dulu ya. Semoga mama merasa cukup kenyang. Dan semoga suatu saat nanti aku bisa membawakan ikan tuna, atau membawakan seorang manusia yang bisa memberikan kita makanan yang cukup dan bahkan banyak! Mama pantas, layak, dan berhak mendapatkan makanan yang banyak, bukan seekor lele mentah hasil curian. Hari ini ikan nila dulu ya ma... anggap saja janji permulaanku sebelum aku memberikan banyak ikan mahal dan enak.”

“Sisa hidupku masih banyak dan panjang, tolong hidup bersamaku sampai di titik terakhir ya ma? Mama adalah harta yang paling berharga untukku. Aku akan berhenti membandingkan nasib diriku sebagai kucing jalanan dan Bobby kucing istana. Aku tau Bobby iri denganku, dia tidak punya seorang ibu hebat seperti mama. Mama adalah harta berharga bagiku, aksesoris mahal yang dikalungi kucing istana itu tidak semahal dengan eksistensi mama dihidupku.”

“Bobby punya kalung mahal di lehernya serta stroller bernilai yang sangat mahal. Aku mungkin tidak akan pernah mendapatkan pengawalan yang heboh seperti dia. Tetapi, aku bisa menjadi pengawal untuk mama. Aku kepada diriku sendiri karena aku punya mama, dan Bobby tidak. Banyak orang-orang yang terlihat sayang bukan karena tulus, tetapi karena ada suatu kepentingan. Malangnya Bobby dikelilingi kemewahan dengan rasa kesepian.”



Penulis: Fitria Salma