(Foto: Tumpukan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati/Lisa)

Hujan lebat mengguyur kawasan Pasar Induk Kramat Jati pada Selasa siang (7/4/2026). Di tengah rintik yang tak kunjung reda, para kuli bongkar tetap memanggul karung sayur, sementara pedagang melanjutkan transaksi dengan pembeli yang datang silih berganti.

Truk pengangkut sayur dan buah silih berganti keluar masuk area pasar. Beberapa waktu terakhir, ada pemandangan yang berbeda di salah satu sudut pasar tersebut, yaitu tumpukan sampah yang menjulang tinggi.

Bau menyengat langsung terasa bahkan sebelum mendekat ke area penumpukan. Sampah sayur dan buah membusuk bercampur dengan plastik serta limbah lainnya menggunung di tempat yang seharusnya bukan menjadi lokasi penampungan. Sebagian bahkan meluber hingga ke area yang biasanya digunakan sebagai tempat parkir kendaraan pengangkut barang.

Bagi Budi (43), pemandangan itu bukan lagi sesuatu yang asing belakangan ini. Sejak 1998, ia bekerja sebagai kuli bongkar di Pasar Induk Kramat Jati. Ia lahir dan besar di kawasan sekitar pasar, sehingga kehidupannya hampir tidak pernah terpisah dari aktivitas Pasar Induk Kramat Jati.

Ia menceritakan bahwa penumpukan sampah yang terjadi belakangan ini berkaitan dengan peristiwa longsor di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, yang biasanya dijadikan tempat pembuangan sampah setiap harinya. Peristiwa itu membuat pengiriman sampah dari berbagai wilayah, termasuk Pasar Induk Kramat Jati, sempat dihentikan sementara.

“Biasanya sampah dari pasar langsung diangkut ke Bantargebang setiap hari. Tapi karena ada longsor di sana, pengangkutannya sempat dihentikan, makanya orang pasar sementara membuang sampah ya di sini dan akhirnya numpuk,” ujar Budi, kuli bongkar. Selasa (7/04/2026).

Kondisi tersebut membuat sampah yang dihasilkan pasar tidak bisa langsung dipindahkan keluar. Sedangkan, pasar induk menghasilkan sekitar dua hingga tiga ton sampah setiap harinya. Sebagian besar berasal dari sisa sayuran dan buah yang tidak terjual atau sudah tidak layak konsumsi.

Tumpukan sampah setinggi itu tentu berdampak langsung pada aktivitas pasar. Para pekerja seperti Budi harus tetap bekerja di tengah kondisi lingkungan yang tidak nyaman. Bau menyengat menjadi hal yang harus mereka hadapi setiap hari.

(Foto: Sampah yang Berserakan di Parkiran Pasar Induk Kramat Jati/Lisa)

Selain bau, sampah yang meluber juga mengganggu lalu lintas kendaraan di dalam area pasar. Truk pengangkut barang sering kali harus melambat karena jalan yang menyempit akibat tumpukan sampah. Kemacetan pun menjadi pemandangan yang hampir setiap hari terjadi.

“Macet di area pasar dalam keadaan seperti itu sudah jadi hal biasa, kadang nggak ada yang mau ngalah, yang akhirnya nggak ada yang bisa keluar dan tambah bikin macet,” ucapnya.

Tidak hanya itu, kondisi semakin sulit ketika hujan turun. Air hujan yang bercampur dengan sampah sering membuat beberapa titik di area pasar tergenang. Hal tersebut mengakibatkan bau yang lebih menyengat dan membuat lingkungan sekitar menjadi tidak nyaman bagi pekerja maupun pembeli.

Menurut Budi, sebenarnya para pedagang di pasar sudah mengikuti aturan yang berlaku terkait pengelolaan sampah. Setiap hari, mereka membayar iuran sampah sebagai bentuk kontribusi terhadap sistem pengangkutan dan pengelolaan sampah pasar.

“Buang sampah ke Bantargebang juga kan tidak gratis. Ada biayanya. Kami para pedagang di sini juga sudah mengikuti aturan dengan membayar iuran sampah setiap hari,” ujarnya.

(Foto: Dozer yang Sedang Mengangkut Sampah/Lisa)

Namun, dalam proses penanganannya, berbagai kendala masih sering terjadi. Salah satunya keterbatasan alat berat seperti dozer yang digunakan untuk merapikan serta memindahkan tumpukan sampah. Alat tersebut terkadang mengalami kerusakan dan jumlah unitnya juga belum mencukupi.

Akibatnya, sampah semakin sulit ditata dan terus menumpuk setiap harinya. Ia menyoroti pengelolaan sampah di pasar yang menurutnya belum berjalan optimal. Ia merasa upaya pembersihan sering kali baru dilakukan secara serius ketika ada kunjungan pejabat.

“Jeleknya pengurus sampah di pasar induk ini, kalau ada pejabat baru dibersihkan. Padahal yang mau sehat itu bukan cuma pejabat, tapi kita yang setiap hari cari nafkah dan hidupnya di pasar juga mau sehat,” ucapnya.

Bagi Budi, tempat ia bekerja bukan sekadar ruang untuk mencari penghasilan. Kebersihan lingkungan menjadi hal penting agar para pekerja tetap dapat menjalani aktivitas dengan kondisi tubuh yang sehat.

Meski begitu, dalam beberapa hari terakhir, Budi melihat ada sedikit perubahan. Ia mengatakan bahwa pengangkutan sampah sudah mulai berjalan kembali, meskipun belum sepenuhnya normal.

“Saat ini sudah sekitar seminggu berjalan. Ada tiga sampai lima armada truk besar yang mengangkut sampah,” tambahnya.

Keberadaan armada pengangkut sampah menjadi sedikit harapan bahwa kondisi pasar bisa kembali lebih bersih dan aktivitas para pekerja serta pembeli di pasar tidak terganggu karena adanya tumpukan sampah tersebut.

“Harapan saya, ayolah pemerintah saling kerja sama supaya semuanya sehat. Kami di sini juga kooperatif mengikuti peraturan yang berlaku. Kalau Jakarta bersih, kan yang enak juga bukan orang asing, tapi kita-kita juga,” tutupnya.

Bagi Budi, pasar bukan hanya tempat bekerja. Tempat itu juga menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil. Karena itu, ia berharap Pasar Induk Kramat Jati tidak hanya dikenal sebagai pusat perdagangan sayur terbesar, tetapi juga sebagai tempat yang layak dan sehat bagi siapa saja yang menggantungkan hidup di dalamnya.



Penulis: Lisa Agustina 
Editor: Reysa Aura P.