(Foto: Cover Buku Disabilitas & Narasi Ketidaksetaraan/Goodreads)

Judul: Disabilitas & Narasi Ketidaksetaraan

Penulis: Muhammad Khambali

Penerbit: Anagram

Jumlah Halaman: 90 halaman

ISBN: 978-623-9924492

Selama dua tahun saya pernah berjalan menggunakan tongkat akibat kecelakaan. Paling membekas bukan rasa sakit pada kaki, melainkan rasa malu karena merasa menjadi pusat perhatian. Tatapan orang-orang sering kali dipenuhi iba, penasaran, atau anggapan bahwa saya tidak lagi mampu melakukan banyak hal. Pengalaman itu membuat saya mulai menyadari bagaimana tubuh bisa dipersepsikan tidak sepenuhnya "utuh" di mata masyarakat.

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya tertarik membaca buku Disabilitas dan Narasi Ketidaksetaraan karya Muhammad Khambali. Buku ini mengajak pembaca melihat disabilitas sebagai bagian dari realitas sosial yang tidak lepas dari relasi lingkungan, cara pandang masyarakat, serta sistem yang belum sepenuhnya ramah dan inklusif.

Khambali ialah seorang guru Sekolah Luar Biasa (SLB) yang sehari-hari berinteraksi dengan penyandang disabilitas. Pengalaman tersebut memberinya banyak kesempatan untuk melihat berbagai persoalan yang dihadapi penyandang disabilitas, baik dalam pendidikan maupun kehidupan sosial. Namun, alih-alih menempatkan dirinya sebagai pihak yang paling memahami isu tersebut, ia justru menunjukkan sikap yang cukup reflektif terhadap posisinya sebagai penulis.

Pada kata pengantarnya, Khambali mengakui bahwa dirinya bukan penyandang disabilitas sehingga memiliki keterbatasan dalam memahami dan mewakili pengalaman mereka. Karena itu, ia menegaskan bahwa pengalaman hidup penyandang disabilitas paling tepat disampaikan oleh mereka yang menjalaninya sendiri. Pengakuan ini menunjukkan kesadarannya akan pentingnya memberi ruang bagi penyandang disabilitas untuk menyuarakan pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi.

Uraian Isi Buku

Buku ini terdiri atas kumpulan esai yang membahas berbagai bentuk ketidaksetaraan yang dialami penyandang disabilitas di Indonesia. Khambali mengajak pembaca melihat bahwa persoalan disabilitas bukan sekadar persoalan kondisi fisik seseorang, melainkan persoalan sosial yang dibentuk oleh lingkungan dan sistem yang belum inklusif.

Salah satu gagasan penting dalam buku ini adalah kritik terhadap ableisme, yaitu cara pandang yang menganggap tubuh dan kemampuan tertentu sebagai standar ideal manusia yang dibentuk oleh norma dan institusi sosial. Akibatnya, mereka yang berada di luar standar tersebut sering dianggap kurang mampu, tidak produktif, atau bahkan menjadi objek belas kasihan. Padahal yang dibutuhkan penyandang disabilitas bukanlah rasa kasihan, melainkan akses dan kesempatan yang setara.

Penulis juga membahas bagaimana bahasa dapat menjadi alat diskriminasi. Pergeseran istilah dari "cacat" menjadi "disabilitas" menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga membentuk cara masyarakat memandang seseorang. Istilah yang salah dapat memperkuat stigma, sementara istilah yang lebih manusiawi dapat membuka ruang penghormatan terhadap martabat individu.

Selain itu, buku ini menyoroti persoalan aksesibilitas dalam pendidikan, pekerjaan, ruang publik, dan literasi. Salah satu yang cukup mengena adalah ketika penulis menjelaskan bahwa buku sering disebut sebagai "jendela dunia", tetapi bagi sebagian penyandang tunanetra, buku justru dapat menjadi "pintu yang tertutup" karena tidak tersedia dalam format yang dapat diakses. Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa ketidaksetaraan sering kali muncul bukan karena kondisi individu, melainkan karena lingkungan yang tidak dirancang untuk semua orang.

Pada beberapa esai lainnya, Khambali juga mengkritisi representasi tokoh disabilitas dalam sastra dan budaya populer. Ia menilai bahwa penyandang disabilitas sering kali hanya digambarkan sebagai objek penderitaan atau simbol inspirasi, bukan sebagai manusia utuh dengan kompleksitas kehidupannya sendiri.

Secara keseluruhan, buku Disabilitas dan Narasi Ketidaksetaraan menegaskan bahwa disabilitas bukan sekadar kondisi individu, tetapi juga konstruksi sosial yang sering melahirkan ketidaksetaraan. Buku ini membuka kesadaran bahwa stigma, bahasa, dan minimnya aksesibilitas menjadi faktor utama yang memperkuat diskriminasi. Dari sini, pembaca diajak untuk tidak berhenti pada rasa iba, melainkan mendorong terciptanya lingkungan yang lebih inklusif dan setara bagi semua orang.




Penulis: Nandana Arieanta Putra P.

Editor: Reysa Aura P.