Di usia yang renta, langkahnya tak pernah ragu
menyusuri jarak yang panjang dan lelah yang diam-diam ia sembunyikan
hanya untuk tiba di rumah kami
tiga cucu yang selalu ia panggil dengan suara penuh rindu.
Ia datang membawa cerita
dan keinginan sederhana yang selalu sama
“Lis, biasa bapak mah pang nyatenkeun hayam atau lauk nya”
katanya pada mamah dengan mata berbinar seperti anak kecil.
Kami tahu, bukan sekadar rasa yang ia cari
tapi hangatnya rumah
dan tawa yang tumbuh di sela-sela obrolan sederhana.
Hari itu, saat itu ternyata kunjungan terakhir yang tak pernah kami sadari sebagai perpisahan,
ia mengajak kami duduk di pangkuannya,
setelah salat di atas sajadah merah
yang masih menyimpan cerita dalam sujudnya.
Tangannya mengusap kepala kami satu per satu,
seakan waktu boleh berhenti sebentar saja,
untuk ia ingin mengikat kenangan
agar tak mudah hilang ditelan kehidupan.
Kami bertiga diam,
menyandar pada tubuh yang mulai rapuh
namun tetap terasa paling kokoh.
Saat ia pulang,
ia melambaikan tangan,
senyumnya lebar, hangat, dan tenang
lagi-lagi kami tak sadar bahwa tanda itu adalah yang terakhir.
Kini, sajadah merah itu masih ada,
terlipat rapi, namun penuh cerita,
tentang seorang kakek
yang mencintai dengan cara paling sederhana.
Dan tentang kami
yang akan selalu mengingatnya
bahwa di pangkuannya
kami pernah merasa
menjadi cucu yang utuh di dunia.
Penulis: Lisa Agustina





0 Comments