Setiap hari rasanya seperti mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar kupahami. Ada begitu banyak ekspektasi yang menumpuk di pundak, sampai aku lupa bagaimana rasanya menjalani hidup dengan langkahku sendiri.
Makan siangku terasa hambar, begitu juga makan malamku. Di tengah semrawutnya kehidupan, aku hanya memasang earphone hitamku, lalu memutar lagu-lagu dari Wave to Earth.
Entah mengapa, setiap nadanya terdengar seperti ombak yang datang silih berganti. Sesaat aku merasa tenang, tetapi di saat yang sama ombak itu seakan membawa pikiranku semakin jauh, mengingatkan bahwa masih banyak hal yang belum terselesaikan.
Di dalam kepalaku, sakit masa lalu masih sering kembali. Peristiwa yang pernah terjadi, kata-kata yang masih membekas, dan penyesalan yang belum menemukan tempat untuk pergi. Aku terus memikirkan apa yang akan datang, sampai lupa menikmati hari yang sedang kulewati.
Malam menjadi tempat semua suara itu berkumpul. Ketika jalanan mulai sepi dan lampu-lampu kamar menjadi satu-satunya cahaya, pikiranku justru semakin ramai.
Ketakutan itu perlahan menguburku di dalam sunyi, seolah malam terlalu panjang untuk dilewati. Bahkan ketika matahari mulai terbit, rasa gelap itu masih tertinggal di dalam diri.
Barangkali kehidupan memang tidak selalu membutuhkan jawaban. Kadang yang kubutuhkan hanyalah jeda, segelas air, satu lagu yang diputar berulang kali, dan keberanian untuk mengakui bahwa aku sedang lelah.
Tidak semua beban harus selesai hari ini, tidak semua ekspektasi harus kupenuhi sekarang juga.
Mungkin itulah larutan penyegar kehidupan. Bukan sesuatu yang menghilangkan seluruh luka atau menghapus semua ketakutan, melainkan hal-hal sederhana yang membuatku tetap bertahan.
Sebab selama matahari masih bersedia terbit setiap pagi, aku percaya selalu ada kesempatan untuk kembali hadir, dan kali ini bukan demi memenuhi ekspektasi siapa pun, melainkan demi diriku sendiri.
Kontributor: Youze





0 Comments