Marhaen, Jakarta – Prosedur pendataan pengunjung sebelum memasuki perpustakaan Universitas Bung Karno (UBK) dinilai masih terlalu rinci dan menuai keluhan dari mahasiswa. Hal tersebut berdampak pada rendahnya intensitas kunjungan ke perpustakaan.
Salah satu mahasiswa semester empat Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, mengaku bahwa saat pertama kali mengunjungi Perpustakaan UBK, ia diminta mengisi data diri secara mandiri melalui komputer yang telah disediakan. Menurutnya, proses pendataan tersebut cukup memakan waktu karena keperluannya hanya untuk pengambilan video untuk tugas kuliah yang berlangsung singkat.
Ia menilai informasi yang diminta dalam pendataan pengunjung terlalu detail. Selain identitas dasar mahasiswa, terdapat sejumlah data lain seperti alamat atau jenis kelamin yang menurutnya tidak terlalu diperlukan untuk kunjungan biasa. Administrasi perpustakaan dapat disederhanakan agar lebih mudah diakses tanpa mengurangi kebutuhan pencatatan dan pengelolaan data. Dengan demikian, mahasiswa dapat lebih mudah mengakses fasilitas yang tersedia.
Pendataan pengunjung merupakan bagian dari administrasi perpustakaan yang bertujuan untuk mendokumentasikan jumlah dan identitas mahasiswa. Menurutnya, pencantuman nama dan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) sudah cukup untuk kebutuhan pendataan. Ia juga membandingkan dengan beberapa kampus lain yang dinilainya memiliki prosedur lebih sederhana.
“Menurutku prosedurnya agak ribet karena datanya terlalu detail, bahkan sampai alamat. Waktu itu aku akhirnya mengetik sendiri di komputer karena kalau harus disebut satu per satu cukup susah. Menurutku cukup nama, NIM, dan fakultas saja. Kalau kampus lain setahuku biasanya cukup menunjukkan identitas mahasiswa,” ujarnya saat diwawancarai. Minggu (12/07/2026).
Selain harus mengisi data yang cukup banyak, ia mengaku tidak mendapatkan informasi tambahan setelah proses pendataan selesai dilakukan. Ia mengatakan petugas hanya mempersilakan dirinya masuk tanpa menjelaskan fasilitas atau layanan yang tersedia di perpustakaan. Menurutnya, informasi tersebut cukup penting, terutama bagi mahasiswa yang baru pertama kali berkunjung. Penjelasan singkat mengenai fasilitas yang ada dapat membantu pengunjung memanfaatkan perpustakaan secara lebih optimal. Hal itu juga dapat memberikan kesan awal yang lebih baik.
Kunjungannya ke perpustakaan berlangsung kurang lebih sepuluh menit. Selama berada di dalam, ia hanya menyelesaikan keperluan pengambilan video untuk tugas kuliah. Meski hanya berkunjung dalam waktu singkat, prosedur masuk perpustakaan menjadi hal yang paling membekas baginya. Ia menilai prosedur yang cukup panjang terasa kurang sebanding dengan durasi kunjungannya. Kondisi tersebut membuat pengalaman pertamanya di perpustakaan kurang berkesan.
“Kalau buat pertama kali kayak ribet banget dan bikin agak lumayan males sih. Apalagi aku waktu itu cuma sekitar sepuluh menit di dalam karena memang keperluannya untuk tugas kuliah,” katanya.
Saat berkunjung, ia juga melihat kondisi perpustakaan yang cenderung sepi dan menilai rendahnya jumlah mahasiswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kenyamanan layanan yang diberikan kepada mahasiswa. Kemudahan akses menjadi salah satu hal yang menurutnya perlu diperhatikan. Semakin sederhana proses yang harus dilalui, semakin besar peluang mahasiswa memanfaatkan fasilitas perpustakaan. Hal tersebut juga dapat meningkatkan fungsi perpustakaan sebagai ruang belajar kampus.
Sebagai masukan, ia berharap pihak kampus dapat meningkatkan kualitas fasilitas yang tersedia di perpustakaan. Ia mengusulkan adanya ruang belajar bersama yang dapat digunakan mahasiswa untuk berdiskusi maupun mengerjakan tugas kelompok. Selain itu, pembaruan koleksi buku juga dinilai penting agar referensi yang tersedia lebih relevan dengan kebutuhan perkuliahan saat ini. Dengan demikian, fungsi perpustakaan sebagai sarana belajar dapat berjalan lebih maksimal.
“Menurutku di UBK bisa ditambah tempat untuk belajar bersama. Terus buku-bukunya juga lebih di-update lagi supaya minat mahasiswa untuk datang ke perpustakaan bisa lebih meningkat,” tutupnya.
Penulis telah menghubungi pihak perpustakaan untuk meminta konfirmasi pada 11 Juli 2026. Karena belum mendapat respons, upaya konfirmasi kembali dilakukan pada 13 Juli 2026. Hingga tulisan ini diterbitkan, pihak perpustakaan belum memberikan tanggapan.
Penulis: Lisa Agustina
Editor: Reysa Aura P.





0 Comments