(Foto: Jalan Sekitar Stasiun Cilejit di Malam Hari/Reysa)

Jarum jam hampir menunjukkan pukul sembilan malam ketika aku berdiri di depan Stasiun Cilejit. Aktivitas di sekitar stasiun mulai berkurang. Di tengah suasana yang semakin lengang, cahaya dari beberapa warung menjadi penerangan yang tersisa di antara minimnya lampu jalan.

Sambil menunggu jemputan datang, aku biasanya berdiri di dekat salah satu warung yang masih buka. Cahaya dari warung tersebut membuat area di sekitarnya terasa sedikit lebih terang dibanding titik lainnya. Bagi penumpang yang baru turun dari kereta, warung-warung itu bukan hanya menjadi tempat membeli makanan atau minuman, tetapi juga menjadi satu-satunya sumber penerangan di tengah minimnya lampu jalan.

Meski area sekitar stasiun masih mendapat cahaya dari aktivitas warga, kondisi berbeda terlihat ketika menyusuri ruas jalan di sekitarnya. Berdasarkan pengamatan yang kulakukan, penerangan jalan belum tersebar secara merata. Beberapa titik masih diterangi lampu jalan, tetapi ada pula ruas yang minim pencahayaan.

Setelah meninggalkan kawasan Stasiun Cilejit, kondisi penerangan di sepanjang jalan menuju permukiman tidak merata. Sekitar 300 meter dari stasiun, terdapat satu ruas jalan yang jauh lebih gelap dibanding titik lainnya. Di sisi kiri dan kanan jalan terdapat pepohonan serta lahan kosong yang membuat suasana terasa semakin sunyi ketika malam tiba. Pada ruas tersebut, pengendara lebih banyak mengandalkan lampu kendaraan untuk melihat kondisi di depan mereka.

Ruas jalan tersebut tidak terlalu lebar dan hanya cukup dilalui dua arah kendaraan. Meski kondisinya kini lebih baik setelah diperbaiki, ketiadaan trotoar dan lampu penerangan yang belum merata masih menjadi tantangan bagi pengguna jalan pada malam hari.

Suasana kawasan itu umumnya mulai sepi sejak pukul tujuh malam. Masih ada beberapa warga yang berlalu-lalang maupun warung yang tetap buka, tetapi jumlahnya tidak banyak. Kondisi tersebut membuat perjalanan menuju maupun meninggalkan stasiun terasa lebih sunyi dibanding siang hari.

Kondisi itu menjadi perhatian Aulia (37), warga yang kerap menjemput anaknya di Stasiun Cilejit. Menurutnya, penerangan jalan di sekitar stasiun masih belum memadai. Ia menilai masih terdapat sejumlah titik yang gelap sehingga menyulitkan pengguna jalan ketika melintas pada malam hari.

Kondisi tersebut membuat Aulia harus lebih berhati-hati saat berkendara. Penglihatannya yang tidak terlalu jelas pada malam hari membuat ia lebih mengandalkan penerangan di sepanjang jalan. Sayangnya, lampu jalan belum tersedia secara merata di seluruh ruas menuju stasiun.

Selain minim penerangan, keberadaan truk besar yang melintas pada malam hari juga menjadi kekhawatiran tersendiri baginya. Menurutnya, kendaraan bertonase besar yang melaju dengan kecepatan tinggi dapat membahayakan pengguna jalan lain.

“Belum aman, karena banyak truk gede lewat malam hari. Itu berbahaya buat pengguna kendaraan lain,” katanya. Senin (25/05/2026).

Aulia berharap lampu penerangan jalan dapat ditambah agar pengguna jalan lebih mudah melihat kondisi sekitar saat melintas pada malam hari. Ia juga berharap bagian jalan yang masih mengalami kerusakan dapat segera diperbaiki demi meningkatkan keselamatan pengguna jalan.

Pandangan berbeda disampaikan Ares (46), pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) yang hampir setiap hari melintasi kawasan tersebut sepulang kerja. Ia biasanya tiba di Stasiun Cilejit sekitar pukul 21.00 hingga 23.00 Waktu Indonesia bagian Barat (WIB) sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan sepeda motor.

Menurutnya, kondisi di sekitar stasiun memang cenderung gelap dan sepi pada malam hari. Meski minimnya penerangan sedikit memengaruhi pandangannya, ia mengaku sudah terbiasa melintasi kawasan tersebut. Tetapi menurutnya, risiko terbesar justru muncul ketika ada truk yang berhenti di pinggir jalan karena mengalami kendala.

“Sedikit sulit, tapi nggak terlalu sulit. Yang bikin bahaya itu kalau ada truk parkir di pinggir jalan, misalnya lagi mogok. Jalannya kecil, jadi mobil sama motor harus gantian lewat,” katanya. Senin (25/05/2026).

Pemandangan serupa kutemui saat meninggalkan kawasan stasiun. Sebuah truk berhenti di pinggir jalan untuk memperbaiki ban. Di ruas yang tidak terlalu lebar itu, pengendara dari dua arah tampak saling menunggu giliran agar dapat melintas dengan aman.

Meski sebagian pengguna jalan tampak sudah terbiasa dengan kondisi tersebut, situasi yang dianggap lumrah bukan berarti sepenuhnya aman. Minimnya penerangan membuat pengendara memiliki keterbatasan untuk melihat kondisi sekitar dengan lebih jelas. Di sisi lain, tidak adanya trotoar membuat pejalan kaki harus berbagi ruang dengan kendaraan yang melintas.

Baik Aulia maupun Ares sama-sama berharap adanya perhatian terhadap kondisi jalan di sekitar Stasiun Cilejit. Menurut mereka, penambahan lampu penerangan akan sangat membantu pengguna jalan, terutama pada malam hari. Selain itu, perbaikan fasilitas jalan juga dinilai penting untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan masyarakat yang setiap hari melintasi kawasan tersebut.

Harapan itu bukan tanpa alasan. Hingga kini, beberapa ruas jalan menuju Stasiun Cilejit masih tampak minim penerangan, terutama pada titik-titik yang jauh dari pusat aktivitas warga. Ketika malam semakin larut, kendaraan yang melintas pun semakin sedikit. Warung-warung mulai menutup usahanya, menyisakan cahaya lampu kendaraan yang sesekali melintas memecah gelapnya jalan.

Bagi sebagian orang, jalan tersebut mungkin hanya menjadi akses menuju stasiun. Namun, bagi mereka yang setiap hari melewatinya untuk berangkat maupun pulang bekerja, rasa aman seharusnya tidak ikut menghilang bersama datangnya malam.




Penulis: Reysa Aura P.

Editor: Anisa Tri Larasety