(Foto: Musala UBK/Salma)

Marhaen, Jakarta – Tata ruang musala Universitas Bung Karno (UBK) dinilai tidak ramah privasi bagi para mahasiswa yang ingin menjalankan ibadahnya. Mahasiswa mengaku merasa tidak nyaman karena kurangnya pembatas area ibadah perempuan dan laki-laki di musala dan tempat wudhu.

Imel dan Rima yang kerap beribadah di musala UBK menyampaikan keluhan terkait tata ruangnya. Mereka menilai satu pintu masuk yang digunakan bersama oleh jamaah laki-laki dan perempuan membuat privasi saat beribadah kurang terjaga.

Kondisi ini membuat area ibadah laki-laki dan perempuan tidak terpisah dengan jelas sehingga, begitu pintu terbuka, saf laki-laki dan perempuan langsung terlihat satu sama lain. Tirai pembatas di dalam musala dinilai terlalu pendek sehingga belum cukup untuk menghalangi sepenuhnya area ibadah antara perempuan dan laki-laki.

“Karena pintunya udah terlanjur begitu, ya palingan tirai pembatasnya dibuat agak sedikit menjauh dari pintu supaya agak belok nutupin saf perempuan dan mereka (laki-laki) jadi gak bisa liat ke saf perempuan,” ucap Rima. Jumat (26/06/2026).


(Foto: Tempat Wudu Musala UBK/Salma)

Ketiadaan pemisah yang memadai juga dirasakan langsung di area tempat wudu. Menurut Imel, tembok pembatas antara tempat wudu laki-laki dan perempuan hanya dibangun setengah badan sehingga aktivitas wudu di kedua sisi masih dapat terlihat dari luar.

“Ada beberapa yang nengok-nengok gitu ke sini itu bikin gak nyaman,” tutur Imel. Jumat (26/06/2026).

Wawi, petugas kebersihan yang sehari-hari merawat kebersihan musala, membenarkan adanya keluhan dari beberapa mahasiswa soal tembok pembatas yang dianggap kurang tinggi. Ia menyebut usulan penambahan tinggi pembatas sudah pernah disampaikan. Hingga saat ini, pihak kampus belum merespons apa pun terkait hal tersebut.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 45 ayat (1), setiap satuan pendidikan wajib menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran. Ketentuan tersebut juga mencakup penyediaan fasilitas penunjang, termasuk tempat ibadah.

Minimnya perhatian kampus terhadap fasilitas musala juga terlihat dari aspek pengelolaannya. Wawi mengungkapkan bahwa minimnya dukungan fasilitas dari kampus juga berimbas langsung pada dirinya sebagai petugas kebersihan. Kebutuhan operasional musala, seperti laundry mukena yang dicuci rutin dua kali sebulan, selama ini ia biayai dari kantong pribadi.

“Boro-boro diganti, Kakak. Selama ini ya dana pribadi saya, kampus enggak pernah mau tahu,” ujar Wawi. Jumat (26/06/2026).

Wawi mengaku sudah pasrah untuk tidak lagi menuntut kebijakan yang lebih adil terkait fasilitas musala karena selama ini keluhan dari petugas tidak pernah mendapat tanggapan yang berarti dari pihak kampus. Menurutnya, suara mahasiswa lebih berpeluang didengar oleh pihak kampus. Karena itu, ia berharap mahasiswa turut menyuarakan persoalan fasilitas musala agar segera mendapat perhatian.




Penulis: Fitria Salma

Editor: Reysa Aura P.