Judul: Aki
Penulis: Idrus
Penerbit: Balai Pustaka
ISBN: 978-979-666-183-1
Jumlah halaman: 74 halaman
Tahun terbit: 1944
Buku ini menceritakan Aki, seorang pria berusia 29 tahun yang tampak lebih tua akibat penyakit paru-paru kronis. Ia tinggal bersama istrinya, Sulasmi, serta kedua anaknya, Lastri dan Akbar. Alur cerita mulai berkembang ketika kondisi kesehatan Aki kembali kritis, yang membuatnya meyakini bahwa hidupnya mungkin hanya tersisa satu tahun.
Keyakinan tersebut mendorongnya untuk menata kembali hidupnya agar dapat menghabiskan waktu yang lebih bermakna bersama keluarganya. Melalui perjalanan Aki, pembaca diajak menyaksikan berbagai refleksi tentang kehidupan dan makna waktu yang dimiliki seseorang.
Aki digambarkan sebagai sosok yang terkenal baik, kuat, dan murah senyum. Keramahan yang ia tunjukkan dapat membuat orang-orang yang baru mengenalnya dengan mudah menilai bahwa ia pasti orang baik. Kebaikan Aki tidak hanya tampak di mata orang-orang yang baru mengenalnya, tetapi juga diakui oleh lingkungan kerjanya serta dikenal sebagai sosok yang disegani.
Menariknya, di balik citra baik yang melekat pada diri Aki, orang-orang di sekitarnya tidak mengetahui secara pasti apakah ia menjalankan ibadah secara rutin atau tidak. Penulis buku Aki menggunakan sudut pandang orang ketiga untuk menyajikan informasi yang tidak diketahui oleh tokoh-tokoh lain sehingga pembaca memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai karakter Aki.
Setelah kembali mengalami kondisi kritis akibat penyakit paru-parunya, Aki memperkirakan bahwa hidupnya akan berakhir pada 16 Agustus tahun berikutnya. Alih-alih dipenuhi ketakutan, ia justru memandang kematian sebagai sesuatu yang wajar dan tidak perlu dihindari. Sikap tersebut sejalan dengan karakternya yang tidak terlalu mementingkan praktik keagamaan, meskipun dikenal sebagai pribadi yang baik oleh orang-orang di sekitarnya.
Dua bulan setelah perkiraan itu dibuat, kondisi Aki justru semakin membaik dan ia tampak sehat seperti biasanya. Akan tetapi, hal tersebut tidak mengubah keyakinannya. Karena merasa waktunya terbatas, Aki memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya setelah delapan tahun mengabdi, sebuah keputusan yang mengejutkan rekan-rekan kantornya.
Tuhan sudah mati
Sekarang Aki jadi Tuhan
Tapi Aki juga akan mati
Jadi semua tidak kekal
Tuhan tidak, Aki tidak, Aku tidak!
Lagu tersebut dinyanyikan oleh rekan-rekan kerja Aki dan ditulis oleh salah seorang di antara mereka yang tidak disebutkan namanya. Penulis buku ini kemudian menampilkan pandangan pencipta lagu tersebut yang menganggap bahwa Aki tidak seharusnya menebak waktu kematiannya, sebab hanya Tuhan yang mengetahui kapan seseorang akan meninggal.
Setelah Aki memperkirakan waktu kematiannya, ia menjalani hari-harinya dengan penuh refleksi diri serta mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk dirinya kelak saat dimakamkan. Orang-orang memandang Aki sebagai sosok yang tidak takut akan kematian karena ia dikenal sebagai pribadi yang baik hati sehingga diyakini akan mendapat tempat yang baik di sisi Tuhan.
Puncak cerita terjadi ketika tanggal 16 Agustus tiba. Orang-orang berkumpul mendatangi kediaman Aki karena meyakini hari itu adalah hari kematiannya. Di kamarnya, Aki ditemani istrinya, Sulasmi, yang setia menunggu Aki untuk menemui malaikat maut.
Rasa sedih menghampiri Sulasmi. Kendati demikian, karena permintaan sang suami yang tidak ingin kematiannya ditangisi, Sulasmi pun berusaha menuruti keinginannya. Waktu terus berlalu, dan Sulasmi berkali-kali memanggil nama Aki tanpa mendapat balasan. Ketika melihat mata Aki mulai terpejam, terlintas dalam pikirannya bahwa Aki sudah meninggal dunia.
Penulis menggambarkan tokoh Aki sebagai sosok yang tenang dan memiliki keteguhan dalam menghadapi keadaan. Meskipun meyakini tentang perkiraan hari kematiannya, Aki tidak menunjukkan rasa takut ataupun kecemasan yang berlebihan. Sikapnya yang tetap tenang di tengah pandangan berbeda dari orang-orang di sekitarnya membuat karakter Aki terlihat kuat dan menarik perhatian pembaca.
Melalui tokoh Aki, buku ini mengangkat tema kematian sebagai bagian alami dari kehidupan manusia. Konflik muncul ketika keyakinan Aki pada hari perkiraan kematiannya menimbulkan berbagai macam reaksi dari lingkungan sekitarnya, mulai dari yang meragukan hingga yang tetap mendukungnya. Dari konflik ini, pembaca diajak untuk merenung bahwa meskipun manusia dapat memperkirakan tentang hidupnya, hari kematian tetap menjadi rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun.
Buku ini menggunakan alur maju sehingga jalan ceritanya terasa runtut dan tidak berlarut-larut. Melalui buku ini, penulis menyoroti pentingnya menghargai waktu yang dimiliki bersama orang-orang terdekat. Salah satu kelebihan novel ini terletak pada cara penulis menggambarkan situasi dan peristiwa secara sederhana sehingga tetap bermakna. Dengan demikian, pembaca dapat lebih dekat dengan pengalaman yang dialami tokoh.
Penulis: Khairunnisa Salsabila
Editor: Reysa Aura P.





0 Comments