Setiap pagi, Wila selalu menyiapkan sarapan untuk dua orang. Dua piring tersebut diletakkan di atas meja makan seperti biasa: satu untuk dirinya dan satu untuk Vino, suaminya. Namun, pada beberapa pagi tertentu, ia mengambil satu piring lagi dari dalam lemari untuk anak yang tidak pernah lahir. Sebuah piring kecil berwarna biru muda yang selalu diletakkan di sisi paling ujung, lengkap dengan sendok kecil dan segelas susu hangat.
“Jangan terlalu penuh airnya,” ucap Wila ketika Vino hendak menuangkan air hangat. “Nanti dia gak habis, dia lebih suka susu soalnya.”
Vino yang berada di depan dispenser dengan membawa sebuah gelas seketika mengernyitkan dahi. “Siapa?” tanyanya.
“Billy.”
Nama itu keluar begitu saja. Ringan, seolah ia sudah terbiasa menyebutnya, seolah anak itu telah tinggal bersama mereka selama bertahun-tahun.
Padahal Billy tidak pernah benar-benar ada.
Wila dan Vino telah menjalin status pernikahan selama empat tahun. Jauh dari sebelum pernikahan itu terjadi, Wila sudah membayangkan dirinya menjadi seorang ibu. Ia selalu membayangkan rumah dipenuhi dengan suara anak yang bermain bersama dirinya, menyiapkan bekal sekolah, membacakan dongeng ketika sang anak hendak tidur, atau menggandeng tangan kecil itu dengan telapak tangannya yang lebih besar saat berjalan santai di sekitar taman.
Pada tahun pertama pernikahan, Wila dan Vino mulai mencoba memiliki anak. Setiap bulan Wila selalu menunggu dengan harapan bahwa kabar baik akan segera datang, terutama ketika menstruasinya terlambat beberapa hari. Ketika menstruasinya datang, Wila menganggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar dan kembali mencoba pada bulan berikutnya. Bagi Wila, menunggu kehadiran buah hati merupakan bagian dari kehidupan yang selama ini ia bayangkan setelah menikah. Wila percaya kehamilan akan datang dengan sendirinya seperti yang sering ia lihat di film.
Hingga satu tahun tanpa kehamilan, Wila mulai mempertanyakan kondisi tubuhnya dan membicarakan hal ini kepada Vino. Keduanya kemudian memutuskan untuk berkonsultasi ke dokter. Dari hasil pemeriksaan, dokter menemukan adanya kondisi yang membuat ovulasi Wila tidak selalu terjadi secara teratur sehingga peluangnya untuk hamil menjadi lebih rendah. Meski begitu, dokter mengatakan bahwa kondisi tersebut bukan berarti Wila tidak dapat memiliki anak. Ia masih memiliki kemungkinan untuk hamil. Hal tersebut membuat Wila kembali yakin dan berpikir positif bahwa suatu hari ia akan menjadi seorang ibu.
Memasuki tahun kedua pernikahan, Wila masih mengikuti anjuran dokter dan terus mencoba. Harapan yang sebelumnya terasa ringan mulai berubah menjadi hal berat dan membutuhkan banyak kesabaran. Hari-hari Wila mulai dipenuhi oleh persiapan yang mungkin mendekatkannya dengan kehadiran seorang anak. Ia semakin sering membayangkan kehidupan kecil yang akan mereka jalani ketika sang buah hati akhirnya hadir.
Pada suatu malam di tahun kedua itu, pembicaraan tentang nama anak muncul di antara mereka. Jika anak mereka laki-laki, Wila ingin memberikan nama Billy. Sejak saat itu, nama Billy perlahan berubah menjadi sosok yang mulai ia bayangkan. Billy, bagi Wila adalah seorang anak yang sangat aktif dan suka bermain bola. Wila mulai membelikan pakaian dan sepatu berukuran kecil yang tersimpan rapi di dalam lemari. Bahkan, Wila membeli sebuah kursi kecil untuk diletakkan di ruang tamu, meskipun kursi tersebut tidak pernah digunakan.
Memasuki tahun ketiga, Billy mulai menjadi bagian dari percakapan Wila sehari-hari. Ia sesekali membicarakan makanan kesukaan yang mungkin disukai Billy atau pakaian yang kemungkinan Billy kenakan nanti. Seiring berjalannya waktu, Wila mulai mengajaknya berbicara. Ketika sedang memasak, ia bisa saja berkata bahwa Billy harus makan sayur. Ketika cuaca sangat terik di siang hari dan Billy masih bermain dengan bolanya, ia bisa saja menyuruhnya untuk beristirahat dan tidur siang. Saat melihat bola di toko mainan, ia membayangkan bahwa Billy mungkin akan menyukainya. Kejadian-kejadian seperti itu perlahan menjadi kebiasaan Wila.
Kenyataanya, pernikahan Wila dan Vino telah menginjak tahun keempat, tetapi penantian panjang itu belum juga berujung pada kehamilan. Baginya, darah merah yang selalu datang setiap bulannya merupakan tanda bahwa penantian itu kembali berujung pada kekecewaan. Pada awalnya, Wila menangis setiap kali menstruasi datang. Seiring berjalannya waktu, ia hanya berdiam diri menatap kalender. Tanggal yang sebelumnya ia lingkari untuk menandai masa subur kembali dihitung dari awal. Bulan berikutnya menjadi kesempatan baru untuk berharap.
Vino menyadari semua itu, tetapi memilih diam. Ia tahu Billy tidak benar-benar ada. Wila juga mengetahuinya, ia bukanlah orang bodoh yang tidak bisa membedakan khayalan dan kenyataan. Ia hanya terlalu lama menanti sang buah hati dan membayangkan dirinya menjadi seorang ibu. Hal tersebut membuat Wila terbiasa dengan bayangan Billy seolah bagian dari kehidupan sehari-hari. Awalnya Vino merasa khawatir ketika melihat kebiasaan-kebiasaan sang istri. Ia sempat berpikir untuk memintanya berhenti membicarakan Billy dan menyimpan barang-barang yang telah dibelinya. Hanya saja ia mengurungkan niat tersebut ketika menyadari bahwa kebiasaan-kebiasaan yang dikhawatirkannya merupakan bentuk dari harapan yang masih terus Wila pertahankan dan perjuangkan.
Vino selalu menemani dan berada di sisi Wila, ia tidak banyak bertanya setiap Wila merasakan kecewa ketika menstruasi datang. Vino selalu menenangkan Wila dan meyakinkan Wila bahwa keduanya masih bisa mencoba lagi.
“Kita bisa coba lagi bulan depan.” ucap Vino menenangkan.
“Iya.” jawab Wila.
Suatu hari, Wila terlihat sedang membersihkan kursi kecil yang pernah ia belikan untuk Billy. Vino yang baru saja pulang bekerja mendapati istrinya kembali membersihkan kursi kecil yang sudah ia pahami sebagai bagian dari kebiasaan Wila selama ini.
“Kamu masih mau bersihin, Wil?” tanya Vino seraya memperhatikan gerak-gerik Wila.
“Iya mas, masih,” jawab Wila, lalu menyalami tangan Vino.
“Wil, Billy itu nggak pernah ada.”
“Iya aku tau Vin,”
“Terus kenapa kamu masih menyiapkan tempat untuknya?”
Wila terdiam sebentar sebelum kembali menjawab, “Karena kalau aku berhenti membayangkannya, aku takut ikut berhenti berharap.”
Vino terdiam. Ia tidak lagi mencoba berusaha untuk meyakinkan Wila. Kalimat itu mempertegas bahwa Billy bukan hanya sekadar anak yang Wila bayangkan, tetapi tempat untuk menyimpan harapan yang belum dapat ia wujudkan. Setelah pembicaraan hari itu, Wila maupun Vino tidak pernah lagi membawa topik itu ke dalam keseharian mereka. Keduanya memilih tidak mempersoalkan cara Wila mempertahankan harapannya agar tetap hidup.
Beberapa waktu kemudian, pagi kembali datang seperti biasanya. Wila menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Vino. Ia terlihat sedang menaruh telur ceplok di atas piring, hal yang kemudian mengundang pertanyaan dari sang suami.
“Bukannya Billy nggak suka telur ceplok?”
“Ini buat kamu, Mas,”
Sejak saat itu, untuk pertama kalinya Wila tidak membawa piring biru muda ke dalam meja makan mereka. Bukan berarti Wila menyerah, ia hanya mulai mencoba berdamai dengan penantian panjangnya selama ini. Perhatian yang selama ini Wila berikan kepada Billy membuatnya tidak sadar bahwa ia dan Vino sudah menjalani pernikahan selama empat tahun. Barang-barang yang Wila belikan untuk Billy masih tersimpan rapih di rumah, ia tidak pernah berpikiran untuk membuangnya. Meskipun begitu, Wila masih berharap suatu hari nanti ia akan menjadi seorang ibu.
Harapan itu masih ada, hanya saja Wila mulai memahami bahwa untuk mempertahankan harapannya tidak selalu hidup berada dalam bayangan Billy. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Wila tidak meminta Billy untuk melengkapi meja makan. Ia memilih menjalani hari-harinya bersama Vino dan juga harapan yang masih belum menemukan wujudnya.
Penulis: Khairunnisa Salsabila





0 Comments