(Source : @garrylotulung)

Jam 08:00 pagi alarm Rani berbunyi, melihat jam Rani langsung terbangun dan bersiap-siap hendak pergi kuliah. Beberapa menit berkutat dijalanan sampailah Rani di kampus tercinta namun, ia merasakan hal yang berbeda, tidak seperti biasanya kampusnya terlihat sepi dan hanya beberapa mahasiswa saja yang tampak berkeliaran disekitaran kampus.

Lalu Rani bertanya kepada temannya “hai fit pada kemana ya? Kok kampus sepi banget ya?” Tanya Rani. Fitri menjawab, “lo nggak tau kalau sekarang kuliah di lapangan, hari ini kuliah pindah ke depan Gedung DPR loh”. Mendengar ucapan dari kawannya, Ranipun bergegas mengambil motornya dan langsung pergi ke Gedung DPR dengan memakai almamater kebanggannya.

Sesampainya di sana Rani melihat ribuan mahasiswa dengan berbagai macam warna Almamater ada merah, hijau, kuning, biru dan banyak lagi. Mereka datang dengan satu tujuan yaitu untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Tepat dihadapan mereka juga tampak banyak polisi berdiri tegap lengkap dengan alat pengamanan yang mereka kenakan.

Mahasiswa mulai beorasi menyampaikan aspirasinya tentang beberapa RUU yang dianggap menyimpang dan mengancam demokrasi. Hari semakin sore namun suasana mulai tidak kondisif, para mahasiswa yang melakukan aksi tersebut mulai mengalami tindakan represifitas dari aparat keamanan, suara ledakan mulai bergema, gas air mata telah diluncurkan, water canonpun disemprotkan pada para mahasiswa, sontak para mahasiswa itupun berlarian menyelamatkan diri bahkan ada yang tak bisa menyelamatkan diri, ada yang terluka, ada yang terkena gas air mata bahkan ada yang sampai meninggal dunia.  Rani mendapat berita bahwa Roby teman sekelasnya meninggal dunia. Entah apa penyebab meninggalnya Roby, Rani belum mengetahui dengan jelas. Yang pasti Roby meninggal dalam keadaan terluka parah dibagian kepala. Kerusuhan pada demo di DPR tersebut terus terjadi hingga malam hari bahkan lebih mencekam karena para aparat keamananpun melakukan sweeping penyisiran terhadap para mahasiswa yang masih ada disekitar Gedung DPR.

Keesokan harinya Rani mulai kuliah seperi biasanya. Tetapi kampus masih sepi bahkan teman - teman sekelas Rani masih banyak yang tidak hadir dalam perkulihan.

“Fit pace mana?  Geri, Zaki dan yang lainnya pada kemana? kok pada nggak kelihatan ya?” Tanya Rani pada Fitri.

“Pace pulang ke kampung halamannya di Papua Ran semalam dia kabari aku via WA”. Jawab Fitri

Setelah menanyakan teman - temannya yang kehilangan kontak, dan ada juga yang sampai kehilangan nyawa saat demonstrasi, bahkan ada beberapa yang pulang kampung seperti Pace ke Papua. Rani diam dan termenung hari itu, mengapa semuanya jadi kacau seperti ini, apakah jika mahasiswa menyampaikan sebuah aspirasi dan keresahan adalah sebuah kesalahan? Kenapa kami para mahasiswa malah dipukuli, ditembaki, bahkan dibunuh ubahnya seperti hewan buruan.

Tapi sesal jangan terus berlarut, ini pengalaman berharga yang takkan pernah kulupakan sampai kapanpun, terlebih saat aku berada ditengah-tengah kerumunan para mahasiswa dengan latarbelakang kampus berbeda teguh bersatu menyatukan suara, tenaga serta pikiran untuk melawan kesewenang-wenangan.

Aku bukan seorang orator yang ahli berorasi, aku juga masih belum baik dicap sebagai pahlawan penyambung lidah rakyat, tetapi kuliah dilapangan kali ini mengajarkanku banyak pelajaran yang berharga sepanjang masa kuliahku.

Oleh : Rahmi Atika Putri


#dprri #aksimahasiswa #kuliahkelapangan #kapolri #mahasiswabersuara #demokrasi #HAM #demokrasidikorupsi