(Foto: film Gangubai Kathiawadi/@bhansaliproductions)

Sutradara            : Sanjay Leela Bhansali

Produser             : Jayantilal Gada, Sanjay Leela Bhansal

Penulis                : Sanjay Leela Bhansal, Utkarshini Vashishtha

Penulis cerita      : Hussain Zaidi

Genre                  : Drama Isu Sosial

Pemeran              : Alia Bhatt, Shantanu Maheshwar, Vijay Raaz, Indira Tiwari, Seema Pahwa

Produksi              : Bhansali Productions, Pen India Limited

Tahun rilis           : 2022

Durasi                  : 154 menit


Film adaptasi dari buku “Mafia Queens of Mumbai” mengisahkan tentang Ganga Harjeevandas Kathiawadi, seorang gadis yang bercita-cita menjadi aktris Bollywood. Bersama kekasihnya, Ramnik, Ganga berusaha mencapai impian tersebut. Dengan syarat, Ganga harus bersedia untuk ikut dengannya ke Mumbai dan dijadikan artis ternama di sana. Namun, mimpi yang diharapkannya kandas ketika ia dijual oleh kekasihnya ke sebuah Rumah Bordil.

Malam itu, Ganga secara resmi menjadi seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) yang memenuhi hasrat lelaki, Ganga dinamai Gangu oleh pelanggan pertamanya yang meyakini bahwa Ganga akan menjadi penguasa Kamathipura suatu saat nanti. Sebagai simbol perubahan hidupnya, Ganga membakar uang hasil kerjanya untuk mengkremasi identitas lamanya dan menamai dirinya sendiri dengan Gangu.

Pada suatu hari, Gangu bertemu dengan seorang pelanggan jahat yang mengantarnya ke Rahim Lala, seorang mafia besar di daerahnya. Rahim menjadikan Gangu sebagai saudarinya, dan setelah diangkat sebagai saudari, Gangu menjadi wanita yang dihormati dan disegani di lingkungannya.

Setelah muncikarinya meninggal, Gangu lah yang ditunjuk oleh teman-teman PSK sebagai muncikari  yang baru, dan mulai dari hari itu, ia tidak lagi melayan parai pria dan fokus untuk mengejar mimpinya sebagai penguasa Kamathipura. Gangu mendapatkan dukungan Dari teman sejawat nya, ia memiliki suara dari 4000 wanita di Kamathipura.

Gangu memiliki mimpi untuk memenuhi hak-hak dari wanita di lingkungannya, karena Ia adalah orang yang paling mengerti hati dan perasaan “wanita” itu. Pemilihan kepala distrik Kamathipura itu tiba, Gangu memiliki rival bernama Raziabai, namun akhirnya gangu yang terpilih sebagai kepala distrik Kamathipura. Dari sana, Gangu resmi dinamai Gangubai Kathiawadi.

Tetapi, permasalahan tetap datang kepada Gangubai. Distrik Kamathipura dituntut oleh sekolah katolik yang ada di belakang rumah bordil. Sekolah itu merasa terganggu dengan kegiatan prostitusi di sana. Gangubai berhasil mengambil hati perdana menteri dengan pidato yang ia sampaikan, akhirnya tuntutan itu dimenangi oleh Gangubai.

Selama masa kepemimpinannya Gangubai Kathiawadi tidak hanya menjadi pemimpin di Kamathipura, tetapi juga menjadi pahlawan kemanusiaan yang menginspirasi banyak orang di seluruh India. Ia dikenal luas karena perjuangannya untuk hak-hak perempuan, seperti pendidikan yang setara dan membangun citra perempuan yang lebih baik. 

Wajahnya terpampang di tembok Kamathipura selama 50 tahun terakhir, takdirnya dipenuhi kesedihan. Tetapi, ia tersenyum sepanjang hidupnya. Ia ingin menjadi bintang film, tapi kisah hidupnya seperti film besar. Gangubai menjadi satu dari 13 wanita paling berpengaruh di india dalam buku Mafia Queen’s Mumbai yang ditulis oleh jurnalis S. Hussain Zaidi pada 2011.

Film ini berhasil menggambarkan kehidupan Gangu dengan menampilkan karakter tangguh, berani, bermartabat, dan pantang menyerah dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di Kamathipura. Meskipun mengangkat tema prostitusi, film ini tidak menampilkan adegan vulgar sehingga lebih nyaman untuk ditonton. Gangu di India dikenal sebagai salah satu pejuang emansipasi wanita yang rela mengorbankan banyak hal demi membela hak 4000 wanita di Kamathipura. Drama dan tragedi dalam film membuat Gangubai Kathiawadi menjadi film yang sayang untuk dilewatkan.

Kekurangan dari film ini terbilang minor seperti kurangnya penjelasan tentang perubahan nama dari Ganga ke Gangu ke Gangubai.  akan tetapi di salah satu artikel menjelaskan Bai merupakan gelar kehormatan di india, juga terdapat alur yang membuat penasaran, kenapa di akhir-akhir cerita, Gangu justru gigih memperjuangkan legalisasi prostitusi dengan argumen-argumen yang tampak benar tapi salah. Meskipun demikian, kekurangan tersebut tidak mengurangi kualitas film secara keseluruhan.



Penulis : Dinda Aulia

Editor : Devi Oktaviana