(Foto: Cover Film 27 Steps of May/Cinejour)

Judul: 27 Steps Of May

Sutradara: Ravi Bharwani

Produser: Wilza Lubis, Ravi Bharwani, dan Rayya Makarim

Penulis: Rayya Makarim

Genre: Drama Isu Sosial 

Produksi: Green Glow Pictures dan Go Studio

Tahun Rilis: 2018

Durasi: 1 Jam 52 Menit

Berawal dari May yang masih mengenakan seragam Sekolah Menengah Pertama (SMP), pergi mendatangi pasar malam dengan raut wajah cerianya melihat atraksi tong setan lalu bermain wahana kora-kora, dan komidi putar. May lalu membeli boneka juga gulali, setelah itu ia bersiap untuk pulang karena memikirkan ayahnya yang menunggu di rumah.

Saat menuju pulang ia melewati jalanan sepi dan gelap, dengan penuh keberanian May terus berjalan, kemudian di tengah jalan ia malah ditarik dan dibawa ke suatu tempat oleh 3 sampai 4 lelaki yang sama sekali tidak dikenal, lalu ia dilecehkan hingga pakaian yang dikenakannya sobek, kotor dan penuh darah. Di sana ia juga dipaksa untuk memakan nasi tidak layak konsumsi.

Setelah itu ia berjalan untuk pulang dengan tatapan yang kosong, setibanya di depan rumah ayahnya pun segera menghampirinya. May tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun saat itu, kebingungan bercampur ketakutan jelas terpancar di wajah sang ayah saat melihat kondisi anaknya yang pulang dalam keadaan mengkhawatirkan.

Kepribadian May berubah sejak 8 tahun lalu saat ia menjadi korban dari kekerasan seksual, saat ini terkurung di rumah, hidup dengan trauma dan ketakutan terhadap lingkungan luar. Rutinitas keseharian May di rumah membantu ayahnya mempersiapkan boneka Barbie untuk dijual.

Sudah menjadi kebiasaan mereka makan siang bersama setelah menyelesaikan pekerjaan hariannya, dengan jelas memperlihatkan perbedaan sajian lauk pauk antara keduanya, May makan nasi putih dengan tempe rebus tanpa bumbu sama sekali, sementara sang ayah makanan berbumbu. sejak saat itu May trauma jika memakan sajian berbumbu, karena mengingatkannya pada pelecehan yang ia alami.

Suasana rumah pun menjadi sangat sunyi, tidak ada percakapan antara anak dan orang tua, May juga memiliki rutinitas lain yaitu bermain lompat tali selepas melakukan semua kegiatan hariannya. Suatu hari kebakaran melanda rumah di belakang tempat tinggal May, yang mengharuskan ia dan ayahnya segera keluar untuk menyelamatkan diri. 

Meski ayahnya sudah meminta May keluar dengan cara halus, ia tetap enggan meninggalkan rumah. Keadaan yang mendesak membuat ayahnya tidak punya pilihan lain selain memaksa agar mereka bisa segera keluar, bukannya keluar May malah pergi ke toilet menyayat pergelangan tangannya menggunakan benda tajam, karena setiap kali dipegang oleh lelaki ia kerap menyakiti dirinya sendiri. Setiap kali May merasa terpuruk, ayahnya pergi bertarung tinju untuk melampiaskan emosi dan rasa bersalah dalam gagal menjaga anaknya.

Setelah semua kejadian itu terjadi, May dan ayahnya kembali menjalankan rutinitas sehari-hari yaitu menghias boneka Barbie. Pasca kebakaran, May menemukan sebuah lubang di dinding kamarnya yang mempertemukannya dengan seorang pesulap. Awalnya rasa takut dan tak percaya menguasai dirinya, perlahan perasaan itu berubah menjadi penasaran dan tanpa disadari May pun terseret masuk ke dunia sang pesulap. 

Pertama kali tangan May dipegang ia melakukan hal yang sama yaitu menyayat pergelangan tangannya. Sang pesulap menemani May dalam proses penyembuhan, ia menghiburnya dengan cara perlahan dari awalnya canggung hingga May mulai menerima kehadirannya. Dalam kepercayaan yang tumbuh di antara mereka, May memperagakan kembali adegan saat ia mengalami pelecehan. Seolah menjadikan sang pesulap sebagai saksi atas luka yang selama ini ia pendam.

Setelah melewati rangkaian proses yang panjang, May mulai berdamai dengan dirinya sendiri dan menunjukkan niat untuk bangkit. Ia keluar dari kamar dengan penampilan berbeda dari biasanya, lalu menemui sang ayah dan mengatakan “Ini bukan salahmu ayah,” sebuah momen yang memecah keheningan dan menandai awal komunikasi mereka setelah lama saling memendam.

Film 27 Steps of May sendiri menjadi simbol penting, 27 langkah bukan sekadar hitungan jarak fisik, melainkan representasi perjalanan batin May untuk kembali berdamai dengan dirinya sendiri. Setiap langkah terasa berat, penuh keraguan, dan sering kali diwarnai ketakutan. Film ini memperlihatkan bahwa proses penyembuhan bukanlah jalan lurus, melainkan penuh jeda, mundur, bahkan terhenti. 

Menurut saya Minimnya dialog justru menjadi kekuatan tersendiri karena kita bisa belajar membaca emosi dari ekspresi, gerak tubuh, dan keheningan. Film ini membahas isu sensitif mengenai kekerasan seksual serta mengajak kita untuk lebih peka terhadap rasa trauma. Melalui kisah May, ditunjukkan bahwa setiap individu memiliki waktu dan cara tersendiri dalam proses pemulihan. Penyembuhan tidak hanya tentang melupakan masa lalu, tetapi juga berdamai dengan diri sendiri agar dapat melangkah terus ke depan. Oleh karena itu, film ini cocok ditonton untuk usia 17 tahun ke atas.




Penulis: Lisa Agustina

Editor: Reysa Aura P.