(Foto: Padatnya Penumpang di Transjakarta/Pinterest)

Transjakarta merupakan salah satu transportasi umum yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Jakarta. Dengan tarif yang terjangkau serta jaringan rute yang luas, Transjakarta menjadi tulang punggung mobilitas warga. Setiap hari, jutaan pekerja, pelajar, dan masyarakat umum mengandalkan layanan ini untuk beraktivitas, baik untuk bekerja, bersekolah, maupun keperluan lainnya. Di tengah kemacetan Jakarta yang semakin parah akibat tingginya jumlah kendaraan pribadi, keberadaan Transjakarta jelas sangat membantu mengurangi kepadatan lalu lintas dan menjadi solusi transportasi yang relatif efisien.

Namun, tingginya jumlah penumpang juga membawa tantangan tersendiri. Pada jam sibuk, seperti pagi hari saat berangkat kerja dan sore hari saat jam pulang, bus Transjakarta hampir selalu dipenuhi penumpang. Kondisi ini sering kali memicu berbagai persoalan sosial yang berkaitan dengan ketertiban di ruang publik. Masih sering ditemui penumpang yang saling mendorong saat masuk bus, tidak memberi kesempatan penumpang lain untuk turun terlebih dahulu, serta mengabaikan sistem antrean di halte. Akibatnya, suasana menjadi tidak nyaman dan berpotensi menimbulkan konflik antar pengguna jasa transportasi umum.

Kenyamanan di Dalam Bus

Kepadatan bus berdampak langsung pada kenyamanan penumpang selama perjalanan. Banyak penumpang berdiri terlalu dekat dengan pintu sehingga menghambat arus keluar-masuk di setiap halte dan memperlambat proses naik-turun penumpang. Kondisi ini sering memicu dorong-dorongan dan ketegangan antarpenumpang. Selain itu, masih ditemui penumpang yang berbicara dengan suara keras, memutar musik tanpa menggunakan earphone, atau sibuk menggunakan ponsel tanpa memperhatikan kondisi sekitar. Perilaku tersebut menambah rasa tidak nyaman, mengganggu ketenangan, serta berpotensi membahayakan penumpang lain, terutama saat bus berhenti mendadak atau dalam kondisi sangat padat.

Situasi ini menjadi semakin memprihatinkan ketika kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas justru kurang mendapat perhatian. Kursi prioritas yang seharusnya diperuntukkan bagi mereka kerap digunakan oleh penumpang lain yang tidak berhak, sementara sebagian penumpang enggan memberikan tempat duduk meskipun melihat kondisi fisik kelompok rentan yang jelas membutuhkan kenyamanan dan keamanan selama perjalanan. Padahal, dalam aturan transportasi umum terdapat kewajiban penyediaan kursi prioritas di Transjakarta yang didasarkan pada Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta No. 13 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Pergub No. 33 Tahun 2017 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Layanan Angkutan Umum Transjakarta.

Konflik Penumpang di Transjakarta

Kepadatan penumpang di bus Transjakarta kerap memicu konflik antarpenumpang. Dalam kondisi bus yang penuh, suasana menjadi tidak nyaman dan emosi mudah tersulut. Dorong-dorongan, saling tatap sinis, hingga adu argumen sering kali terjadi, terutama saat jam sibuk. Transportasi umum yang seharusnya menjadi ruang bersama yang tertib justru berubah menjadi arena ketegangan sosial.

Salah satu konflik yang sempat menjadi perhatian publik adalah peristiwa antara lansia dan pemuda terkait tempat duduk di bus Transjakarta. Lansia tersebut menegur pemuda yang sedang duduk, meskipun kursi yang digunakan bukan kursi prioritas. Teguran yang disampaikan dengan nada tinggi memicu perdebatan dan emosi, sehingga suasana di dalam bus menjadi semakin tidak kondusif.

Kurangnya Peran Petugas Transjakarta

Penulis pernah menyaksikan secara langsung kejadian yang memprihatinkan di bus Transjakarta rute 6H. Seorang lansia yang menggunakan tongkat telah meminta bantuan kepada petugas untuk turun di Halte Lapangan Banteng. Pada saat bus tiba di halte, permintaan tersebut tidak segera ditindaklanjuti. Pintu bus justru ditutup dan kembali melaju. Akibatnya, lansia tersebut kehilangan keseimbangan dan terjatuh di dalam bus. Situasi tersebut disebabkan karena rendahnya peran petugas Transjakarta. Kini, petugas jarang terlihat mendampingi penumpang selama perjalanan. Padahal, kehadiran petugas sangat penting untuk menengahi konflik, memberikan edukasi kepada penumpang, serta memastikan kelompok rentan seperti lansia mendapatkan hak dan rasa aman. Tanpa peran aktif petugas, penumpang seolah dibiarkan menyelesaikan masalah sendiri, yang sering kali berujung pada konflik terbuka.

Menurut penulis, masalah ini terjadi karena sistem transportasi yang belum sepenuhnya siap. Keterbatasan jumlah bus dan tingginya volume penumpang pada jam sibuk membuat bus cepat penuh, sehingga memicu ketidaksabaran dan persaingan ruang antarpenumpang. Sehingga penumpang saling mendahului, berdesakan, bahkan terlibat konflik akibat tekanan kondisi yang padat dan tidak seimbang dengan kapasitas layanan. Apabila sistem tidak diperbaiki, kenyamanan dan keselamatan di Transjakarta akan terus terganggu.

Peningkatan Pelayanan Transjakarta

Kedepannya, pelayanan Transjakarta diharapkan terus membaik, tidak hanya dari segi fasilitas, tetapi juga dari kualitas pelayanan petugas di lapangan, sehingga potensi konflik antarpenumpang, penggunaan fasilitas yang tidak semestinya, serta berbagai bentuk ketidaknyamanan di Transjakarta dapat diminimalkan. Dengan demikian, tercipta suasana perjalanan yang lebih tertib, aman, dan nyaman bagi seluruh pengguna.




Penulis: Marsya Natasya

Editor: Reysa Aura P.