Boneka compang-camping itu dahulu kala datang ke panti asuhan dengan kardus kecil coklat lusuh berisikan secarik kertas bertuliskan namanya, 'Ann'. Bajunya bersih, biru bermotif bunga, rambut tenun wol merahnya dikuncir dua rapih, dan mukanya seperti ia baru saja menyadari bahwa pemiliknya tidak menginginkannya. Cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya pilu.
Tetapi, terlepas dari awal yang suram, Ann menjadi bagian dari keseharian setiap anggota panti asuhan itu. Ia tidak mendapatkan perlakuan istimewa. Bahkan, dia diperlakukan selayaknya boneka. Ia bermain dengan anak-anak panti yang lain, dia ikut duduk di ambang jendela saat kelas mulai, dan dia kembali ke kotak kayunya saat malam tiba.
Pada tahun-tahun awal Ann tinggal di panti itu, kesehariannya amat sangat monoton. Bermain dengan anak-anak panti yang lain, duduk di kelas, dan kembali ke kotak kayunya lagi dan lagi. Ann menyadari banyak hal selama ia tinggal di panti ini. Semakin anak-anak tumbuh besar, semakin para pengasuh panti menghiraukan mereka, semakin banyak anak-anak yang meninggalkan panti, semakin banyak juga anak-anak lebih muda yang tinggal menetap bersamanya di panti itu.
Terkadang Ann termenung melihat anak-anak panti yang menangis terisak-isak kehilangan temannya yang sudah lama dibesarkan dan tinggal bersama di bawah atap yang sama, mengetahui dengan pasti bahwa mereka mungkin tidak akan bertemu lagi untuk waktu yang sangat lama bahkan mungkin tidak bertemu lagi sama sekali.
Ann bertanya-tanya apakah akan ada suatu hari nanti ketika dia juga akan meninggalkan panti asuhan. Apakah anak-anak yang biasa bermain bersamanya juga akan menangisi kepergian dirinya seperti itu? Akankah para pengajar dan guru-guru yang sering membiarkannya bertengger di lemari buku dan jendela menyadari ketidakhadirannya? Seperti apa dunia di balik tembok panti asuhan ini? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang tidak terhitung jumlahnya di benak boneka itu.
Semakin lama boneka itu tinggal di panti asuhan tersebut, semakin sering ia diberikan kepada anak-anak yang lebih kecil oleh para pengasuh. Kalau boleh berkata beberapa patah kata, Ann sebenarnya kurang menyukai bermain dengan anak-anak yang lebih kecil. Mereka penuh energi, memang merupakan hal yang baik.
Namun, itu juga berarti mereka memiliki lebih banyak kekuatan untuk bermain kasar padanya, memelintir rambut wol merahnya, melemparnya ke sana kemari di dalam ruangan, dan menjadikannya objek konflik antar teman sebaya. Biasanya, Ann tidak mempermasalahkan hal-hal sepele seperti ini, karena ia tahu bahwa para pengasuh akan mencucinya dan menjahitnya kembali.
Tetapi akhir-akhir ini, ia memperhatikan setiap helaan dan suara decak lidah kesal setiap kali waktu bermainnya berakhir. Lambat laun, rambut wol merahnya yang rapih menjadi kusut masai dan akhirnya Ann lebih sering dipajang di balik kaca pintu lemari buku kelas saat jam bermain.
Meskipun Ann dikunci di balik kaca lemari buku ruang kelas demi kebaikannya sendiri (seperti yang dikatakan para pengasuh), hal itu tidak mencegahnya disentuh oleh anggota panti asuhan lainnya. Guru seni itu adalah pria yang kreatif. Peralatannya berkilau dan dia benci jika seseorang membuat berantakan. Tapi terkadang, dialah yang membuat berantakan. Dia punya kebiasaan buruk menumpahkan lemnya. Meskipun dianggap sebagai 'orang yang bersih', dia cukup malas. Terkadang, saat tidak ada yang melihat, guru itu diam-diam menggunakan boneka lusuh itu untuk membersihkan kekacauan yang ia buat. Yah, toh boneka itu tidak bisa bicara. Itu akan menjadi rahasia mereka.
Semakin berjalannya waktu, semakin menguningnya baju birunya Ann, dan semakin para pengurus enggan untuk bahkan melirik ke arahnya. Ann sekarang diletakkan di gudang bawah panti asuhan itu, kembali dalam kardus coklat lusuh di antara mainan-mainan tua lain, tetapi tidak terlupakan.
Sepertinya, Ann tidak dilupakan sama sekali oleh para pengasuh panti karena mereka akhirnya mengeluarkan kardusnya yang robek digerogoti tikus dari gudang gelap itu dan kembali ke panti asuhan. Melihat cahaya lagi setelah sekian lama membuat Ann merasa senang, terlalu senang untuk memperhatikan beberapa dari pengasuh yang ia kenal sekarang berambut setengah abu-abu, bagaimana anak-anak yang dulu bermain dengannya kini tak terlihat lagi, atau bagaimana cahaya lembut di koridor panti asuhan berubah menjadi sinar matahari yang menyilaukan.
Tertera di samping kotak kardus tempat boneka itu duduk, "Obral Barang Bekas". Hati kapas boneka itu menciut. Bagaimana bisa setelah sekian lama ia tinggal di panti asuhan itu mereka menyingkirkannya begitu saja? Ia tidak melihat anak mana pun menangisi kepergiannya, tidak ada pengajar yang mencarinya di luar kelas, apa yang akan terjadi padanya? Ia masih punya banyak sekali pertanyaan.
Sekarang, boneka compang-camping itu kembali duduk di dalam kardus kecil coklat lusuh, dengan baju birunya yang kini menguning, rambut tenun wol merahnya yang terurai, dan dengan mimik wajah yang sama seperti ia dahulu baru sampai di panti asuhan itu; seperti ia baru saja menyadari bahwa pemiliknya tidak menginginkannya. Hanya kali ini ia meninggalkan panti asuhan itu dan kali ini, raut mukanya sudah tidak menarik simpati siapa pun yang melihat boneka tua itu.
Penulis: Joanna Matondo





0 Comments