(Foto: Film I Am What I Am/Letterboxd.com) 

Judul: I Am What I Am (そばかす)

Sutradara: Shinya Tamadai

Penulis: Atsushi Asada

Genre: Drama

Produksi: (not) HEROINE movies

Tahun Rilis: 2022

Durasi: 144 menit


Film I Am What I Am dibuka dengan menghadirkan tokoh utama bernama Kasumi Sobata, perempuan berusia 30 tahun yang tinggal bersama keluarganya. Cerita mengalir pelan dengan mengikuti aktivitas hariannya, mulai dari rutinitas kecil hingga kebiasaan mengisi waktu seorang diri. Hal ini memperlihatkan kehidupan Kasumi yang berjalan dengan apa adanya.

Karakter Kasumi juga diperkenalkan sebagai seorang aseksual, yaitu individu yang tidak memiliki ketertarikan seksual maupun hubungan romantis terhadap siapapun. Dalam salah satu adegan, film memperlihatkan Kasumi makan malam bersama rekan-rekan kerjanya di sebuah restoran. Mulainya percakapan yang mengarah pada topik hubungan membuat Kasumi tampak ragu untuk menanggapi, karena ia tidak merasa terhubung dengan arah pembahasan tersebut.

Hari berganti dan memperlihatkan keseharian Kasumi. Pada momen tertentu, saat Kasumi sedang bersantai di rumah, ibunya mengajak untuk berbelanja keluar, yang ternyata itu sebuah alibi untuk perjodohan Kasumi dengan seorang laki-laki pemilik kedai ramen bernama Kogure Sho. Saat mereka berada dalam situasi canggung di dalam pertemuan itu, Sho mengatakan bahwa hubungan romantis maupun pernikahan belum menjadi prioritas dalam hidupnya.

Ketika kedekatan mereka semakin berkembang dan mulai terjalin hubungan yang terasa nyaman, arah cerita justru bergerak ke titik yang tak terduga. Sho perlahan menyadari perasaannya lalu menyatakan cinta kepada Kasumi. Pengakuan itu membuat Kasumi terdiam. Ia mengira Sho berada di posisi yang sama dengannya, yang menjalani hubungan tanpa tuntutan romantis. Saat itu juga Kasumi perlahan menolak ajakan tersebut. Ia berusaha menjelaskan tentang dirinya yang tidak memiliki ketertarikan dalam persoalan percintaan, bahkan merendahkan ego dan memohon agar Sho dapat memahami tanpa harus terluka.

Namun, reaksi yang didapat oleh Kasumi justru berupa kemarahan dan penghakiman. Sho menolak mempercayai identitas aseksual Kasumi. Baginya, tidak masuk akal jika ada seseorang yang tidak memiliki ketertarikan seksual atau romantis. Sho menuduh penolakan itu lahir dari alasan lain, seolah Kasumi sengaja menutup diri darinya. Amarah Sho meninggalkan luka yang dalam. Kasumi terlihat semakin tertekan, berulang kali mencoba menjelaskan posisinya, bahkan memohon agar hubungan mereka tetap bertahan sebagai pertemanan.

Upaya itu tidak membuahkan hasil. Sho tetap marah dan meninggalkan Kasumi dalam kesedihan. Pengalaman pahit bersama Sho menjadi titik dalam perjalanan batin Kasumi. Setelah hubungan itu runtuh, tekanan dari keluarga kembali menguat. Sang ibu tetap bersikeras mencarikannya pasangan hidup, seolah pernikahan adalah satu-satunya jalan yang benar. Bahkan adik perempuannya, yang selama ini ia kira paling memahami, ikut melabelinya sebagai lesbian. 

Setelah peristiwa bersama Sho, Kasumi kembali pada suasana sunyi yang kerap ia rasakan. Di sela kesehariannya, Kasumi memilih mengunjungi pantai yang selama ini menjadi ruang rehat batinnya. Tempat tersebut memberinya jarak dari tekanan yang dialami, membiarkan waktu berjalan dengan tenang, dan menikmati kebersamaan dengan dirinya sendiri.

‎Pada bagian akhir cerita, film menampilkan Kasumi yang menjalani hari-harinya dengan tenang di tempatnya bekerja. Ia tetap menjalin interaksi bersama teman-teman kerjanya, termasuk dengan Armado Hikaru, salah satu rekan kerja barunya. Setelah jam pulang, rekan-rekan Kasumi sempat merencanakan makan bersama. Sementara itu, Hikaru menolak ajakan tersebut dan justru mengundang Kasumi untuk pergi ke suatu tempat pada hari berikutnya. Meski sempat ragu, Kasumi akhirnya menyetujui ajakan Hikaru.

Keesokan harinya, Kasumi dan Hikaru berjalan bersama menuju tempat yang telah disepakati. Di tengah kebersamaan itu, Kasumi merasakan kejanggalan yang sulit diabaikan. Ia lalu memilih bersikap jujur dengan mengungkapkan bahwa dirinya tidak memiliki ketertarikan pada hubungan romantis dan menyatakan dirinya sebagai aseksual. Pengakuan tersebut disambut senyum oleh Hikaru, yang menyatakan bahwa ia merasakan hal serupa. Adegan ditutup dengan perpisahan mereka di persimpangan jalan, meninggalkan kesan pertemuan singkat yang dipenuhi rasa saling memahami.

Melalui alur ceritanya, I Am What I Am hadir sebagai potret kehidupan yang dekat dengan realitas sehari-hari, memperlihatkan bagaimana pengalaman personal seseorang kerap dipandang dari sudut yang sempit oleh lingkungan sekitar. Cerita mengalir mengikuti ritme keseharian tokohnya, perlahan membuka lapisan tentang identitas, penerimaan, dan stigma yang hadir secara alami dalam kehidupannya. Film ini mengajak penonton untuk menyadari bahwa setiap orang berhak menjalani hidup sesuai dengan keyakinannya sendiri, tanpa harus selalu berada di bawah tekanan penilaian dari lingkungan sekitar.




Penulis: Nesya Ajeng Murtiatin

Editor: Reysa Aura P.