(Foto: Tinta Merah Bertulis Nama/Pinterest)

Saat aku lahir,

kata Papa, “pas banget hari Valentine, namain itu aja ya”

Seolah namaku sudah diberi tema sejak awal,

tidak lama, langsung disepakati.


Aku pernah bertanya,

“Kenapa bukan Valentine saja?”

Mama tertawa, “ya kan orang Sunda”

Maka namaku diberi ujung yang terasa lebih hangat,

seperti huruf tambahan yang sengaja dibuat agar terdengar lebih rumah

Katanya, biar gampang diingat

Katanya lagi, ucapan adalah doa

Jadi mungkin sejak itu,

namaku bukan cuma namaku,

melainkan harapan yang terus disebut.


Lucu juga

Diberi nama yang identik dengan cinta,

sementara aku masih belajar mencintai alarm pagi.

Pada akhirnya,

aku hanya manusia biasa

yang masih belajar mengeja dirinya sendiri.


Jika benar ucapan adalah doa,

maka namaku adalah cinta yang disebut setiap hari,

bukan dalam bentuk bunga atau cokelat,

melainkan dalam suara yang memiliki harapan kecil supaya aku hidup dengan hati yang cukup:

cukup hangat, cukup kuat, cukup menjadi diriku.




Penulis: Lusiana Valentina