(Foto: Ilustrasi Rupiah yang Melemah/Liputan6)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir. Rupiah bahkan sempat berada di kisaran Rp17.804 per dolar AS yang memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Kondisi tersebut membuat harga sejumlah kebutuhan pokok dan barang impor mengalami kenaikan di pasaran.

Pelemahan rupiah bukan sekadar angka dalam pasar keuangan, melainkan persoalan yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat. Harga sembako mulai naik, biaya transportasi bertambah, dan kebutuhan rumah tangga menjadi semakin mahal. Pedagang kecil kesulitan mencari keuntungan karena modal terus meningkat, sementara pembeli mulai mengurangi pengeluaran.

Namun, di tengah keresahan masyarakat, pemerintah justru mengeluarkan pernyataan yang tidak peka terhadap kondisi rakyat. Bahkan, Presiden Republik Indonesia mengatakan bahwa masyarakat desa tidak terlalu berdampak karena “orang desa jajan tidak pakai dolar”. Pernyataan tersebut menuai kritik karena dianggap tidak mencerminkan kenyataan yang dirasakan masyarakat.

Masyarakat desa mungkin tidak bertransaksi menggunakan dolar secara langsung, tetapi dampak pelemahan rupiah tetap mereka rasakan melalui kenaikan harga kebutuhan pokok. Mulai dari beras hingga pupuk tani meningkat karena biaya distribusi dan barang impor menjadi lebih mahal, nilainya mencapai 70 persen. Pada akhirnya, rakyat kecil kembali menjadi pihak yang harus menanggung dampak dari kondisi ekonomi tersebut.

Pernyataan pemerintah yang terkesan meremehkan pelemahan rupiah justru membuat masyarakat semakin kecewa. Rakyat tidak membutuhkan kalimat penenang semata, melainkan solusi nyata yang dapat menjaga kestabilan harga kebutuhan hidup. Pemerintah seharusnya hadir dengan kebijakan yang mampu melindungi masyarakat kecil dari tekanan ekonomi.

Tidak sedikit masyarakat yang akhirnya harus mengurangi kebutuhan sehari-hari demi bertahan menghadapi kondisi ekonomi saat ini. Sebagian orang mulai mengurangi konsumsi, menunda membeli kebutuhan penting, bahkan mencari pekerjaan tambahan untuk menutupi pengeluaran.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak melemahnya rupiah kini semakin dirasakan masyarakat setiap saat. Harga berbagai kebutuhan yang terus meningkat membuat banyak keluarga harus lebih selektif dalam membelanjakan uang dan memprioritaskan kebutuhan yang benar-benar penting.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan April 2025 mencapai 1,95 persen, sementara inflasi bulanan berada di angka 1,17 persen. Kelompok kebutuhan rumah tangga, seperti listrik, bahan bakar, dan pangan, menjadi penyumbang utama kenaikan harga. Meski inflasi disebut “terkendali”, masyarakat tetap tertekan karena pendapatan tidak naik secepat harga kebutuhan.

Melemahnya rupiah juga berdampak pada kalangan mahasiswa dan pekerja yang sehari-harinya bergantung pada teknologi dan mobilitas. Harga handphone, laptop, hingga biaya perawatan perangkat digital ikut meningkat. Di sisi lain, kenaikan biaya transportasi dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) semakin menambah tekanan pengeluaran di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.

Di sisi lain, pemerintah seharusnya mampu mengambil langkah yang lebih serius untuk memperkuat ekonomi dalam negeri. Ketergantungan terhadap barang impor membuat Indonesia sangat mudah terdampak ketika nilai dolar mengalami kenaikan. Produksi pangan lokal harus diperbaiki agar kebutuhan masyarakat tidak terus bergantung pada produk luar negeri.

Jika pelemahan rupiah berlangsung berkepanjangan, daya tahan masyarakat sebagai pelaku usaha akan terbatas dan berpengaruh pada pengembangan bisnis maupun tenaga kerjanya. Hingga akhirnya, penyesuaian harga yang terus naik akan memengaruhi daya beli konsumen.

Data BPS menunjukkan nilai impor Indonesia periode Januari–April 2025 mencapai US$76,29 miliar dan meningkat 6,27 persen dibanding tahun sebelumnya. Bahkan, impor nonmigas naik hingga 9,18 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada barang dan bahan baku dari luar negeri. Ketika dolar menguat, biaya impor otomatis meningkat dan harga barang dalam negeri ikut terdorong naik.

Masyarakat hanya berharap kondisi ekonomi tetap stabil agar mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus terus dibayangi biaya hidup yang semakin tinggi dari waktu ke waktu. Pelemahan rupiah bukan masalah kecil karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat bawah yang harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Ketika nilai rupiah terus melemah, masyarakat selalu menjadi pihak yang paling dulu terkena dampaknya. Sebab, di tengah situasi seperti ini, kelompok dengan penghasilan pas-pasan sering kali memiliki ruang paling sempit untuk bertahan ketika harga kebutuhan terus bergerak naik.




Penulis: Lisa Agustina 

Editor: Reysa Aura P.