(Foto: Siluet Orang di Atas Gemerlap Kota/Pinterest)

sayangku,

hari ini aku membaca berita lagi.

angka-angka bertambah nolnya, janji-janji bertambah panjang, dan orang-orang bertambah pandai menjelaskan mengapa hidup semakin sulit.

katanya semuanya terkendali.

aku percaya.

sama percayanya seperti saat aku bilang aku tidak memikirkanmu sebelum tidur.


sayangku,

aku ingin mengajakmu makan malam.

sayangnya, aku harus membaca berita terlebih dahulu.

barangkali besok nasi lebih mahal.

barangkali minggu depan ongkos perjalanan bertambah.

barangkali bulan depan cita-cita kembali dipindahkan ke daftar kebutuhan tersier.

jadi mari kita bertemu hari ini saja.

sebelum harga naik lagi.


sayangku,

ada sesuatu yang lucu dari negeri ini.

mereka bisa membiasakan diri pada harga yang terus naik.

membiasakan diri pada kabar yang menyakitkan.

membiasakan diri pada ketidakadilan yang diulang-ulang.

namun mereka tidak pernah bisa membiasakan diri pada dua perempuan yang saling mencintai.

aneh sekali.


sayangku,

orang-orang bilang masa depan sedang dipersiapkan.

aku tidak tahu di mana.

aku mencarinya di dompet yang semakin tipis.

aku mencarinya di wajah para pekerja yang pulang lebih lelah dari biasanya.

aku mencarinya di antara mahasiswa yang terus meneriakkan sesuatu sampai suaranya habis.

aku mencarinya di kamar-kamar kos yang penghuninya sibuk menghitung sisa uang hingga akhir bulan.

tapi entah kenapa, yang paling sering kutemukan adalah mereka yang sibuk mengatur siapa yang boleh mencintai siapa.


sayangku,

kalau suatu hari kita berjalan bersama dan mata-mata itu kembali menatap,

jangan lepaskan tanganku.

biarkan mereka menganggap kita ancaman.

toh selama ini, mereka selalu salah memilih musuh.

mereka takut pada ciuman, tetapi tidak pada keserakahan.

mereka takut pada kasih sayang, tetapi tidak pada kekuasaan yang berlebihan.

mereka takut pada cinta

yang datang dari perempuan kepada perempuan,

tetapi tidak pada mereka yang terus-menerus mengambil pilihan dari orang lain.


sayangku,

aku tidak punya istana.

aku tidak punya jabatan.

aku tidak punya pidato yang bisa mengubah arah negara.

yang kupunya hanya tangan ini.

dan anehnya, tangan yang menggenggam tanganmu selalu dianggap lebih berbahaya daripada tangan-tangan yang merusak banyak hal.


sayangku,

jika besok keadaan semakin buruk,

jika angka dolar kembali naik,

jika berita-berita kembali membuat orang marah,

aku ingin tetap berada di sampingmu.


bukan karena aku tidak peduli pada dunia.

justru karena aku peduli.

sebab semakin hari aku semakin percaya,

yang membuat hidup sulit bukan hanya harga-harga.

kadang juga dunia yang terlalu ingin mengatur siapa yang boleh dicintai.


dan di dunia yang semakin sulit ini,

mencintaimu terasa seperti salah satu bentuk perlawanan terakhir. 




Kontributor: Elara Kala