(Foto: Ilustrasi Kurir Paket/Liputan6)

Marhaen, Jakarta - Meningkatnya aktivitas belanja online mendorong lonjakan arus pengiriman barang di berbagai daerah. Di balik tingginya permintaan tersebut, kurir paket masih menghadapi beban kerja berat dan minimnya perlindungan ketenagakerjaan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) e-Commerce, sepanjang tahun 2024, jumlah usaha meningkat 15,30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan tenaga pengiriman yang menjadi ujung tombak distribusi barang kepada konsumen.

Salah satu kurir paket Shopee Express (SPX), Dandi, mengungkapkan bahwa target pengantaran yang ditetapkan di gudang tempatnya bekerja mencapai 100 paket per hari dan dapat meningkat saat kampanye promosi atau periode belanja besar berlangsung. Selama lima bulan bekerja sebagai kurir, ia mengaku target tersebut tidak selalu mudah dicapai, terutama saat volume pesanan mengalami lonjakan.

Di balik tingginya target pengantaran tersebut, para kurir menjadi pihak yang berhadapan langsung dengan berbagai tantangan di lapangan. Selain dituntut menyelesaikan pengantaran dalam jumlah besar setiap hari, mereka juga harus menghadapi kendala cuaca, kondisi lalu lintas, hingga pelanggan yang sulit ditemui saat proses pengiriman berlangsung.

“Dari gudang ditargetin 100 paket per hari, tapi kalau lagi ada campaign atau event bisa lebih. Kalau realistis pengantarannya paling sekitar 75 paket itupun kalau cuacanya bagus,” ujar Dandi. Kamis (25/06/2026).

Sebagai buruh harian lepas, Dandi menjelaskan bahwa sistem kerja yang diterapkan memberikan keleluasaan dalam menentukan jadwal libur. Di sisi lain, pendapatan yang diterima juga sangat bergantung pada jumlah paket yang berhasil diantarkan. Paket yang tidak selesai dikirim pada hari tersebut akan menjadi tambahan pekerjaan pada hari berikutnya sehingga beban kerja dapat terus menumpuk.

Hujan deras tidak hanya memperlambat proses distribusi, tetapi juga meningkatkan risiko kerusakan barang, terutama untuk paket yang berisi perangkat elektronik atau barang yang mudah pecah. Kondisi ini membuat kurir harus bekerja lebih hati-hati agar paket tetap sampai dalam kondisi baik kepada penerima.

Dandi menuturkan bahwa kendala lain yang cukup sering terjadi adalah ketika pelanggan dengan metode pembayaran Cash On Delivery (COD) tidak berada di lokasi saat paket diantarkan. Situasi tersebut menyebabkan waktu pengantaran menjadi tidak efisien karena kurir harus berulang kali mencoba menghubungi pelanggan atau mencari solusi lain agar paket dapat diterima.

“Kalau ada customer COD tapi nggak ada di rumah, itu jadi buang waktu. Harusnya sudah bisa lanjut ke beberapa rumah lain, jadi ada yang tertunda. Kalau memang nggak bisa dihubungi, paketnya dikembalikan ke gudang. Tapi kalau masih bisa dihubungi, biasanya diantar ke alamat baru yang dikasih customer,” katanya.

Meski menghadapi tuntutan dan target yang tinggi, Dandi mengaku belum mendapatkan perlindungan sebagai pekerja. Sebagai pekerja harian lepas yang tidak terikat kontrak, risiko kecelakaan maupun kebutuhan kesehatan masih harus ditanggung secara pribadi.

“Untuk jaminan keselamatan kerja atau ketenagakerjaan nggak ada karena kami bukan karyawan kontrak. Jadi ditanggung masing-masing. Ya sudah risikonya begitu, apalagi sekarang cari kerja juga susah,” ujarnya.

Dandi memperoleh upah sekitar Rp1.700 per paket yang berhasil diantarkan. Nominal pendapatan yang diterima setiap pembagian gaji bergantung pada jumlah paket yang berhasil diselesaikan selama masa kerja tersebut.

Ia berharap perusahaan dapat memberikan perhatian lebih terhadap kesejahteraan kurir, terutama terkait jaminan kesehatan, pengaturan absensi yang lebih terjadwal, serta penyesuaian target pengantaran agar lebih realistis dengan kondisi lapangan. Selain itu, ia juga berharap pemerintah dapat memperhatikan kebutuhan para pekerja lapangan, khususnya terkait harga bahan bakar minyak yang menjadi komponen utama biaya operasional kurir.

“Harapannya ada jaminan kesehatan buat kurir, terus target paketnya bisa lebih realistis. Untuk pemerintah juga semoga harga BBM (Bahan Bakar Minyak) bisa turun lagi karena kami kerja pakai motor dan itu sangat berpengaruh ke penghasilan sehari-hari,” tutupnya.




Penulis: Lisa Agustina 

Editor: Reysa Aura P.