Penulis: Ichikawa Saou
Penerbit: Japan Foundation
ISBN: 978-623-99244-8-5
Jumlah Halaman: 90
Tahun Terbit: 2023
Diterjemahkan oleh: Dewi Anggraini
Novel Si Bengkok karya Ichikawa mengangkat isu lebih jauh tentang penyandang disabilitas, seksualitas, dan kemarahan karena sistem yang tidak inklusif dalam masyarakat yang masih memusatkan tubuh non-disabilitas sebagai standar manusia utuh. Novel ini menampilkan perspektif yang berbeda hingga berhasil meraih Penghargaan Akutagawa ke-169.
Dalam novel ini, Shaka digambarkan sebagai perempuan yang hidup dengan miopati kongenital. Miopati kongenital adalah penyakit bawaan karena kelainan gen yang membuat otot lemah sejak lahir. Karena hal tersebut, Shaka sehari-hari harus menggunakan kursi roda otomatis untuk menunjang kegiatannya. Narasi dalam novel ini seakan mengajak para pembaca menyaksikan bagaimana tubuh Shaka yang terus-menerus dinegosiasikan, mulai dari urusan bernapas, duduk, mandi, membaca, hingga menjalani hasrat seksual.
Penggunaan sudut pandang orang pertama, yaitu dari Shaka, si karakter utama sebagai penyandang disabilitas, menjadi salah satu kekuatan novel ini. Pembaca tidak hanya mengetahui kondisi Shaka sebagai penyandang disabilitas, tetapi juga diajak memahami cara ia memandang tubuhnya sendiri, orang-orang di sekitarnya, dan berbagai hambatan yang ia hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut membuat pengalaman yang disampaikan terasa lebih intim dan autentik.
Novel ini tidak berusaha menampilkan cerita kehidupan Shaka yang membuat orang-orang tersentuh dan sentimental. Justru sang pembuat novel menampilkan Shaka sebagai pribadi yang penuh amarah, sinis, kritis, dan pintar. Keterbatasan yang Shaka punya bukan berarti ia hanya bisa pasrah dan menerima. Shaka punya hak penuh akan tubuhnya sendiri.
Menurut saya, novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca karena Ichikawa Saou berani menulis pengalaman hidup difabel tanpa ada unsur untuk mengundang pembaca memandang seorang disabilitas untuk "dikasihani". Sang penulis sangat deskriptif sehingga para pembaca merasakan keberadaan tubuh Shaka secara nyata, bukan sebagai simbol inspirasi, melainkan raga yang rapuh dan sakit, tetapi tetap memiliki hasrat dan kuasa.
Novel ini mengkritisi bagaimana sistem yang tidak memperlakukan orang disabilitas dengan baik. Melalui pengalaman Shaka saat berhadapan dengan buku cetak, fasilitas yang tidak aksesibel, hingga pandangan masyarakat yang menganggap pengalaman membaca orang non-disabilitas sebagai sesuatu yang umum untuk semua orang. Hal ini menjadi medium bagi Ichikawa Saou untuk mengkritik sistem yang belum berpihak pada penyandang disabilitas. Penulis Si Bengkok seolah ingin menegaskan bahwa hambatan terbesar bagi penyandang disabilitas bukan hanya kondisi fisik, melainkan juga lingkungan sosial yang abai.
Dalam novel ini, tubuh difabel tidak disucikan, tidak pula diposisikan semata sebagai objek belas kasihan. Tubuh Shaka justru hadir dengan seluruh kerumitannya: rentan, erotis, dan marah. Masyarakat masih melestarikan stigma bahwa penyandang disabilitas adalah sosok yang "harus dikasihani". Akibatnya, mereka dianggap tidak memiliki hasrat seksual atau hubungan romantis. Melalui karakter Shaka, novel ini menunjukkan bahwa penyandang disabilitas tetap memiliki emosi, hasrat seksual, dan hak atas tubuhnya sendiri.
Terlepas dari menariknya isu yang dibawakan melalui novel ini, narasi di dalamnya tidak mudah bagi pembaca untuk mendapatkan sensasi "kenyamanan", karena terdapat beberapa adegan yang berpotensi memicu perasaan sebaliknya bagi sebagian orang, seperti narasi vulgar dan ekstrem. Detail medis yang rinci dan intens membuat saya selaku pembaca merasa "ngilu", serta cara berpikir Shaka yang tajam dan terkadang menghadirkan humor gelap membuat pembaca harus siap menghadapi cerita yang tidak menawarkan kenyamanan emosional.
Pada akhirnya, Si Bengkok bukan sekadar novel tentang kehidupan seorang penyandang disabilitas, melainkan refleksi tentang cara masyarakat memandang tubuh. Pada dasarnya, novel ini mengajak para pembaca untuk melihat bahwa setiap tubuh, baik disabilitas maupun non-disabilitas, tetap memiliki hak, martabat, dan suaranya sendiri.
Penulis: Fitria Salma
Editor: Reysa Aura P.





0 Comments