(Foto: Cover Film Animasi Chainsaw Man - The Movie: Reze Arc/Pinterest)
Judul: Chainsaw Man - The Movie: Reze Arc
Sutradara: Tatsuya Yoshihara
Penulis: Hiroshi Seko
Genre: Dark Fantasy Romance
Produksi: MAPPA
Tahun Rilis: 2025
Durasi: 100 Menit
Chainsaw Man - The Movie: Reze Arc menceritakan tentang dua karakter utama yaitu Denji dan Reze yang memiliki permasalahan mengenai kemiskinan dan kontrol kekuasaan politisi yang merebut kebebasan seseorang. Denji dan Reze sebagai karakter utama memperlihatkan bahwa ketika kebutuhan dasar tidak terpenuhi, maka mereka akan melakukan apapun untuk bertahan hidup.
Saat masih usia kanak-kanak, Denji bekerja pada Yakuza atau sindikat mafia Jepang. Pada usianya yang masih belia, ia sudah terikat pada aturan kerja yang menyerang psikologisnya. Saat memasuki usia remaja, ia bekerja di Divisi Keamanan Publik Jepang sebagai pemburu iblis, meski berada di lembaga negara tugasnya masih serupa perihal membunuh atau terbunuh. Saat kecil maupun remaja, Denji tidak memiliki kontrol atas tubuhnya karena adanya kuasa pihak lain, akibatnya ia harus merelakan psikologisnya terserang karena tidak memiliki pilihan.
Demi bertahan hidup, Denji menerima pekerjaan apapun, bahkan yang mempertaruhkan nyawanya. Menurut Denji, kebahagiaan tidak diukur dari kekayaan atau kehidupan mewah, melainkan dapat terpenuhinya kebutuhan paling dasar, seperti makan, memiliki tempat tinggal, dan mendapatkan kasih sayang. Hal ini menunjukkan bahwa kemiskinan telah menurunkan standar hidup seseorang hingga kebutuhan dasar dianggap seperti kemewahan.
Berbeda latar belakang dengan Denji, Reze merupakan individu yang kehilangan kebebasan akibat sistem kekuasaan. Reze adalah seorang anak yang diambil dan dilatih oleh pemerintah Uni Soviet (USSR) sebagai bagian dari program rahasia. Reze tidak mengetahui identitas ibu dan ayahnya karena ia dibesarkan secara kolektif oleh negara, sejak saat itu tubuhnya hanya dijadikan bagian dari kepentingan politik.
Reze tidak memiliki kendali atas tubuhnya sendiri. Secara visual Reze terlihat seperti manusia utuh, faktanya tubuhnya telah dijadikan alat percobaan untuk senjata biologis oleh pemerintah Uni Soviet. Akibatnya, tubuh Reze bukan berisikan organ-organ atau banyaknya sel seperti manusia lain, melainkan sebagai bom berjalan.
Sejak kecil hidup Reze dipenuhi perintah dan pengawasan yang membuat ia pintar dalam memainkan berbagai peran saat menjalankan misi dari atasannya. Setiap menarik tali di lehernya, Reze mengubah tubuhnya menjadi bom ledakan demi menjalankan misi. Ia bahkan rela mengorbankan bagian tubuhnya sendiri agar tugas yang diberikan berhasil. Rasa sakit yang dialami Reze tidak lagi ia pandang sebagai penderitaan, melainkan sebagai konsekuensi yang harus diterima dari peran yang telah ditanamkan sejak kecil akibat doktrin militerisasi.
Reze mengatakan jika ia bisa memilih menjadi tikus desa atau tikus kota, maka pilihannya adalah menjadi tikus desa. Menurut Reze, tikus desa merupakan simbol ketenangan, karena selama hidup di kota, ia tidak lepas dari kekerasan yang menjerat hidupnya karena tuntutan pekerjaan. Sebaliknya, Denji memilih menjadi tikus kota karena baginya, kota menawarkan kesempatan untuk menikmati makanan yang layak. Perbedaan pilihan tersebut menunjukkan bahwa keinginan hingga keputusan keduanya dibentuk oleh pengalaman hidup yang berbeda.
Pertemuan Denji dengan Reze bukan ditakdirkan untuk menjalankan kisah romansa remaja dengan akhir bahagia. Denji sebagai orang yang mendambakan ketenangan, sedangkan Reze dengan keinginan kebebasan dari tuntutan yang mengikatnya. Tujuan mereka sama: bebas, kabur, dan bersekolah, nahasnya takdir membuat impian mereka hanya sebatas angan yang tidak bisa dicapai, sebab nyatanya, mereka tidak pernah merealisasikan hal itu.
Berdasarkan Kisah Denji dan Reze, mereka lebih mendekati individu yang kehilangan kontrol akan hidupnya sendiri akibat kemiskinan dan manipulasi. Penonton diajak menyadari bahwa kemiskinan, eksploitasi, dan penyalahgunaan kekuasaan dapat membentuk cara seseorang memandang dunia, mengambil keputusan, bahkan memahami arti cinta. Eksploitasi tidak harus dalam bentuk kekerasan fisik, hal ini bisa didapatkan dari manipulasi emosional, serta kontrol kekuasaan yang dapat mengendalikan hidup seseorang.
Film ini menyampaikan kritik perihal gambaran yang terjadi di dunia nyata seperti: eksploitasi pekerja dan perdagangan anak. Hal ini memperlihatkan bagaimana individu sering kali diperlakukan sebagai alat untuk memenuhi suatu kepentingan pihak tertentu. Melalui kisah Denji dan Reze, film ini menyampaikan bahwa cinta memang mampu menghadirkan harapan, kenyataannya tidak semua hal akan pernah tercapai apabila manusia masih hidup dalam struktur sosial yang mengekang kebebasan.
Penulis: Fitria Salma
Editor: Anisa Tri Larasety





0 Comments