Marhaen, Jakarta - Penempatan urinoar di toilet laki-laki Fakultas Teknik Universitas Bung Karno (UBK) sejajar lurus dengan pintu, sehingga pengguna berpotensi terlihat oleh orang yang melintas di luar. Kondisi tersebut memicu persoalan privasi, terutama ketika pengguna sedang buang air kecil dan berada dalam posisi yang sulit untuk menutupi dirinya.
Kondisi tersebut diperparah dengan letak toilet laki-laki dan perempuan yang berdampingan. Akses menuju toilet perempuan mengharuskan melewati toilet laki-laki terlebih dahulu, sehingga berpotensi melihat pengguna yang sedang menggunakan urinoar.
Albi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), salah satu pengguna toilet laki-laki di Fakultas Teknik, bercerita bahwa pernah terlihat oleh perempuan saat sedang menggunakan urinoar. Pengalaman tersebut membuat ia tak nyaman sekaligus malu akibat urinoar yang sejajar dengan pintu.
“Pas itu emang lagi buru-buru banget dan kebetulan 2 bilik dalam kamar mandi penuh dan mau gamau di urinoarnya kan. Saat kencing, pintu kamar mandi ga ketutup tuh karena ada yang masuk, terus ada perempuan lewat (depan pintu) mau ke kamar mandi (perempuan) dan berakhir tatapan gitu pas lagi kencing, kan malu ya udah pasti,” ujar Albi saat diwawancarai. Senin (03/08/2026).
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa menutup pintu belum sepenuhnya menjamin privasi pengguna urinoar. Meski pintu utama telah ditutup, pengguna lain yang keluar-masuk toilet terkadang membukanya kembali, sehingga pengguna urinoar tetap berisiko terlihat.
Selain rasa malu, situasi tersebut juga membuat Albi khawatir atas kemungkinan munculnya anggapan bahwa ia ingin melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan. Terlebih, posisi pintu yang terbuka membuat situasi dapat ditafsirkan berbeda oleh orang lain.
“Orang-orang kan pasti beda ya cara mikirnya, kita kan gatau pintu kamar mandi kebuka karena kadang di luar kendali kita nih. Kalau ada perempuan lewat dan ga sengaja lagi kebuka bisa aja ada perempuan mikir 'ni orang ngapain sih buang air kecil kok pintunya kebuka' takutnya ada yang mikir pelecehan seksual, memamerkan alat kelamin atau gimana gitu sih,” ucapnya.
Pengalaman serupa juga dialami Ujang (nama samaran) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Ia juga mengaku pernah terlihat perempuan saat sedang menggunakan urinoar yang membuatnya langsung membuang muka karena gelisah dan malu.
Kejadian tersebut membuat Ujang menghindari toilet Fakultas Teknik dan memilih menggunakan fasilitas toilet di gedung FISIP. Keputusan itu bahkan terus dilakukannya hingga beberapa bulan setelah kejadian.
“Akhirnya saya pindah ke toilet FISIP. Karena ya itu, malu dan juga ada traumanya. Udah berapa bulan juga akhirnya ga disitu lagi (toilet teknik),” ujarnya. Sabtu (08/08/2026).
Pengalaman Albi dan Ujang menunjukkan bahwa persoalan privasi tidak hanya berkaitan dengan perilaku pengguna, melainkan juga dipengaruhi oleh tata letak fasilitas toilet. Posisi urinoar yang sejajar dengan pintu, ditambah akses toilet perempuan di jalur yang sama, membuat pengguna berpotensi terlihat saat menggunakan fasilitas tersebut dan menimbulkan rasa tidak nyaman.
Untuk memperoleh klarifikasi terkait persoalan tersebut, pihak Bagian Umum telah dihubungi sejak Rabu (05/08/2026). Hingga berita ini diterbitkan Bagian Umum belum memberikan keterangan mengenai tata letak urinoar dan privasi pengguna toilet laki-laki di Fakultas Teknik.
Penulis: Nandana Arieanta Putra P.
Editor: Anisa Tri Larasety





0 Comments